Jalan Bersama Sufi Dalam Laku Spiritual Berbekal Petunjuk Kitab Martabat Tujuh

Terkini
Bagikan:

Jakarta t3lusur Proses kulturasi kearifan budaya lokal menjadi semacam sunnatullah  ketetapan Allah SWT untuk makhluk-Nya sehingga semua yang terjadi di dunia ini bukan sesuatu yang kebetulan. (Republika.Co.Id, Sabtu 13 Jun 2020). Mulai dari hukum dan sufisme dalam Pembentukan Martabat Tujuh sudah ada saat pengesahan Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara menjadi kerajaan hingga berlangsung lebih dari dua abad (1327-1541) untuk kemudian berlanjut pada era kesultanan selama lebih dari empat abad (1541-1960).

Pada masa kesultanan Buton banyak dikembangkan pemahaman terhadap naskah dan tradisi sastra. Sehingga Kesultanan Buton pada masa itu menjadi wilayah yang dipenuhi dengan kecerdasan intelektual dan hasrat melakukan eksplorasi spiritual. Diantara ratusan manuskrip di Kesultanan Buton adalah kitab Martabat Tujuh. Istilah martabat tujuh itu sendiri memang tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah, karena tidak ditemukan pada tradisi yang mengajarkan tentang martabat tujuh itu secara khusus.

Namun di dalam tradisi tasawuf, martabat tujuh dianggap sebagai upaya pengembangan dari ilmu tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah. Kedudukan ilmu ini sama halnya dengan mempelajari ilmu lainnya yang mengacu pada dasar-dasar dari ajaran Nabi. Dan sebagaimana diketahui bahwa, hadist Rasulullah yang berasal dari Qauli (ucapan), Fili (perbuatan) dan Taqriri (ketetapan) yang ditulis oleh para periwayat hadist, sangat mungkin tidak dapat dipahami oleh semua orang mengenai pengertian dari kedalaman yang terkandung didalamnya. Apalagi gaya bahasa yang digunakan Nabi dalam penuturan balaqah sastranya yang tinggi, dan dominan menggunakan bahasa perumpamaan yang perlu dicerna – tidak hanya sebatas teks semata — tapi juga prasa sastra yang menyertai penuturannya.

Demikianlah kilasan historikal dari ajaran tentang Martabat Tujuh, sebagaimana diajarkan oleh para ulama sebagai bagian dari ilmu dan pengetahuan yang terus berkembang, seperti ilmu balaghah, ilmu Bayan, ilmu ushul Fiqh, ilmu Dirayah, Riwayah, mustalahul hadist, ilmu tauhid dan sebagainya yang sangat luas wilayah jelajahnya. Meski tak mungkin menggapai seluruh milik Allah yang tidak terbatas.

Syahdan, pemahaman tentang martabat tujuh itu bersumber dari apa yang disusun oleh Muhammad Ibn Fadhilah dalam kitabnya Al Tuhfah al Mursalah ila Ruhin-Nabi. Kitab Martabat Tujuh menguraikan tentang Dzat Tuhan sebagai perwujudan yang Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal, perasaan, khayal dan indera. Itulah sebabnya ilmu yang dimiliki para intelektual yang apa cuma mengandalkan kemampuan berpikir tidak mungkin mampu mengendus yang dapat dijangkau oleh kemampuan spiritual. Karena Dzatullah sebagai aspek bathin dari segala yang maujud ada pada Tuhan yang meliputi segala sesuatu yang ada dan tidak ada, tak mungkin terjangkau oleh akal pikiran (Surat Fushilat :54), sehingga untuk memahami wujud Tuhan yang sebenarnya hanya dapai dilakukan secara transenden melalui tajalli sebanyak tujuh martabat.

BACA  Bambang Utoyo Amir Sjarifuddin Harahap Menjalankan Politik Etis

Lalu mungkinkan semua itu – seperti yang dimaksud oleh Martabat Tujuh itu — mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia yang sangat terbatas ?

Tampaknya, demikian peran dan tujuan dari laku spiritual yang memiliki kemampuan menjangkau juah melampaui kemampuan dari pengembaraan intelektual sehebat apapun. Sehingga atas dasar keterbatasan ini, kemampuan intelektualitas setiap manusia – setinggi apapun derajatnya yang menjulang – tetap berada dibawah posisi spiritual yang mampu dikembangkan secara maksimal oleh setiap makhluk Tuhan yang paling sempurna di jagat raya, termasuk Jin sekalipun, sebagai makhluk sandingan bagi manusia yang diciptakan Tuhan terlebih dahulu dari manusia.

Adapun tujuh martabat yang dimaksdukan itu adalah martabat Ahadyah, yaitu martabat La Tayun dan Ithlaq. Ialah tahap yang belum mengenal individuasi yang masih tersembunyi karena belum ada ide-ide yang dinamakan Dzat Mutlak. Sementara diantara semua martabat, tak satupun yang melebihi martabat Ahadiyah. Karena semua martabat lainnya berada pada level dibawahnya.
Martabat kedua adalah Martabat Ta’yun. Martabat Ta’yun kedua atau Wahidiyah yaitu kesatuan yang mengandung kejamakan, dimana tiap-tiap bagian telah jelas batas-batasnya, sebagai hakikat manusia. Ketiga adalah martabat yang bersifat bathiniah dan Illahiyah.

Berikutnya adalah martabat alam arwah. Lalu martabat alam mitsal. Dan keempat adalah martabat alam asjam (tubuh) yang tersusun secara materiil. Kelima martabat alam insan, sehingga dalam diri manusia sesungguhnya terkumpul tiga martabat yang sifat berbathin dan tiga martabat yang bersifat lahir. Begitulah prosesnya daya yang menghidupkan gerakan pertumbuhan mulai dari biji-bijian hingga berkembah menjadi pohon lalu berbuah, hanya energi dan kekuasaan Tuhan semata yang mampu melakukan semua itu, karena memang berada diluar jangkauan kemampuan pemikiran manusia.

Lalu semua bersujud kepada-Nya sang Maha Pencipta. Semua bertasbih dan sujud dengan bahasa dan caranya masing-masing. Dalam konteks inilah Bahasa bumi yang acap dikatakan Eko Sriyanto Galgendu seorang pemimpin spiritual di Indonesia dapat dipahami, sebagaimana dalam versi Profesor Ravik Karsidi yang dia pahami sebagai bahasa langit. Demikian juga dengan ayat-ayat diri yang diwujudkan Tuhan dalam tubuh manusia, seperti gerakan jantung, kerdipan mata serta kemampuannya memantulkan pandangan yang sangat presisi dengan apa yang terlihat, sehingga proses metabolisme tubuh dengan dengan kesempurnaannya menyalurkan semua kotoran melalui saluran yang sudah disediakan dengan sangat semourna.

BACA  Sugeng Teguh Santoso Ketum PERADI Pergerakan Protes Atas Penangkapan Advokat LBH Yogyakarta

Oleh karenanya, ketika ada penyimpangan yang menyalahi sunnatullah tersebut, maka tubuh manusia yang bersangkutan akan merasa sakit. Ada yang tidak beres. Tidak sehat, karena mekanisme yang seharusnya berjalan sesuai dengan tata aturan ciptaan Sang Pencipta itu menyalahi sunnatulah-Nya. Maka dalam konteks ini juga laku spiritual itu memiliki keunggulan karena lebih mengedepankan rasa untuk melakukan apa yang menjadi bisikan hatinya – sebagaimana yang acap diistilahkan sebagai panggilan hati – untuk kemudian dilakukan begitu saja tanpa harus menjadi masalah yang dipertanyakan.

Tebaran ayat-ayat buana di jagat raya, ayat bumi di alam dan lingkungan yang penuh misteri, serta ayat-ayat diri yang ada dalam tubuh manusia inilah yang mampu diekspolarasi oleh Eko Sriyanto Galgendu setelah 25 tahun menekuni laku spiritual di jalan sepi bersama kaum sufi sehingga dimampukan memahami bahasa bumi. Membaca yang tidak tertulis, mendengar yang tidak bersuara serta melihat yang tidak tampak wujudnya dari pandangan orang kebanyakan.

Keunggulan rasa pirasa dan insting atau jagat batin dalam pemahaman laku spiritual jauh melampai akal pikiran yang tidak mungkin mampu memamahi bahasa tubuh secara sempurna– sebagai bagian dari sunnatullah – seperti rasa hendak membuang hajat yang tidak masuk dalam otoritas kendali akal pikiran manusia. Demikian juga dengan bisikan hati, insting atau naluri yang acap menjadi pertentangan atau pertanyaan bagi akal sehat siapapun. Sehingga menjadi penerimaan rasa dari suasana yang sejak layak keindahan yang tidak terpermanai dalam lukisan seorang maestro sejak yang cukup berdecak dalam kegagumannya yang terpukau.

Meski begitu, setiap pelaku spiritual harus memiliki wawasan pemahaman tentang ketuhanan yang baik agar tidak terjebak dalam pemahaman yang taqlid. Apalagi tujuh martabat ini sangat dianjurkan untuk dijadikan bekal dalam perjalanan menuju Tuhan. Sehingga pemahaman terhadap alam dengan segenap isi serta makhluknya yang ada merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal, yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta sebagaimana yang dimaksud dari pemahaman wahdatul wujud. Kesaksian seorang sufi, Muhyidin Ibn Arabi, asal Spanyol menulis buku Fusus al-Hikam pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M cukup menerangkan ikhwal Pantheisme yang ada di jagat raya ini sebagai wujud keinsankamilan. Dimana dalam perspektif tasawuf yang meletakkan inti dari segenap energinya pada kepekaan perasaan yang tinggi, dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menyempurnakan jati diri yang sesungguhnya.

BACA  Pengukuhan Satgas Ansor Anti Narkoba, Kapolresta Banyuwangi Himbau Jauhi Narkoba dan Berita Hoax

Pada dasarnya pemahaman tentang martabat tujuh atau tujuh martabat ini mengungkapkan secara berurutan asal muasal kejadian manusia maupun alam semesta. Didalam tata urutannya Syekh Muhammad Ibnu Fadhilah menempatkan Dzat sebagai hakikat dari segala sesuatu. Karena itu Dzat yang dia maksudkan itu disebut sebagai la ta’yun, tidak bisa dikenal hakikatnya. Keadaan-Nya pun tidak kenal untuk penyebutan-Nya, karena segala persepsi tidak bisa menggambarkan keadaan-Nya. Sehingga keadaan yang masih belum ada apa-apa, seperti yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an itu, layaknya seperti orang yang pingsan (suatu keadaan yang pernah dialami oleh Nabi Musa As, lihat QS: 7:143).

Kemudian dalam perjalanan kaum sufi yang acap  ‘ugal-ugalan’ dalam tingkah lakunya – melantunkan ayat-ayat Tuhan sepanjang malam misalnya – bisa saja disebut tirakat atau apa saja semacam tafsir terhadap sesajian yang acap dianggap bit’ah atau apa saja – sesungguhnya sekedar ekspresi dari upaya untuk mengungkapkan adanya sesembahan. Lain cerita ketika Eko Sriyanto Galgendu melakukan ziarah ke sejumlah pemakaman tua se Pulau Jawa pada masa awal perjalan spiritual yang dilakukannya – kehadirannya ke sejumlah makam para leluhur itu yang patut dihormati itu dengan tangan kosong tanpa membawa sesaji apa-apa – justru dapat dipahami sebagai perwujudan yang pasra, lega lila, karena memang tidak mempunyai bekal apa-apa kecuali jiwa dan raganya semata yang bisa dia serahkan.

Kisah unik tanpa sesaji ini pun, dalam tradisi para pelaku spiritual bisa dianggap penyimpangan. Padahal dari ketiadaan apa-apa – termasuk sekedar ongkos untuk perjalanan menuju ke sejumlah makan yang akan di ziarahi itu memang tidak ada – maka dalam kepasrahan seperti lega lila tadi – pada hakikatnya lebih memiliki nilai kejujuran dan keikhlasan. Masalahnya, menurut Eko Sriyanto Galgendu berkisah saat mengenang masa susahnya secara materi ketika itu, hakikat kepasrahan dan melakukan semua itu dengan kondisi apa adanya justru memberi hikmah yang nikmat dia rasakan sekarang.

oleh Jacob Ereste :

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.