Tradisi Perang Telah Menjadi Budaya Yang Mengoyak Bingkai Peradaban Manusia

Opini
Bagikan:

T3lusur.com Banten Setidaknya ada empat hasrat yang mendorong keinginan untuk melakukan perang. Yang pertama adalah mempertahankan hak kemerdekaan diri, bangsa dan negara dari sikap terjajah oleh siapapun, bukan hanya oleh suatu bangsa atau negara tertentu saja, tapi juga dari kelompok, instansi bahkan oleh rezim pemerintah sendiri yang bersikap semena-mena kepada rakyatnya. Sehingga demokrasi, kebebasan dan kemerdekaan hanya omong kosong.

Begitulah perang yang didorong oleh nafsu kekuasaan yang ingin menguasai obyek yang jadi perebutan itu jadi bukan cuma dalam bentuk wilayah semata, tapi juga bisa dalam model sistem kapitalis misalnya dengan segenap potensi (tidak cuma sebatas kekayaan belaka) yang ada di dalam wilayah atau sistem tersebut. Karena perang model mutakhir sudah melampaui batas kemampuan yang bisa dipahami banyak orang, sehingga ada perang asimetris dalam berbagai bentuk dan modelnya yang terbaru.

Perang dalam bentuknya yang tidak lagi bersifat konvensional dan tradisional ini  yang masih bersifat kampungan itu wujud perang pada hari sudah memasuki wilayah peradaban manusia dalam semua sektor dan bidang kehidupan, meliputi politik, sosial, budaya dan agama bahkan tak lagi sebatas ideologi, tapi juga kesehatan, seni, gaya hidup. Begitulah perang asimetris tak lagi terlalu dominan mengandalkan senjata dan tentara seperti masih sering kita tonton dari adegan Israel dan Palestina. Atau, kelak di Eropa yang disulut oleh Rusia dan Ukraina. Sementara China dan Amerika terus berjualan dan memasok senjata dan tentaranya agar api peperangan tetap bisa terus menyala.

Maka itu, motif dari perang yang dilakukan karena kepentingan ekonomi — jual senjata maupun jasa dengan memberi bantuan tentara bayaran seperti yang dilakukan oleh banyak negara di dunia ini sekarang yang menjadikan perang sebagai suatu pekerjaan yang bisa menghasilan keuntungan finansial, seperti yang gandrung dilakukan bangsa dan negara yang percaya kepada kapitalisme.

BACA  PIMPINAN SPIRITUAL NUSANTARA, SRI EKO SRIYANTO GALGENDU, MENJADI INISIATOR LAHIRNYA : GEN S ( GENERASI SPIRIT TO ALL

Jadi perang dalam bentuk apapun intinya adalah untuk memperluas habitat kekuasaan, atau mempertahankan hak seperti yang dilakukan Negara Republik Islam Iran. Oleh karena itu, perang dalam bentuk yang paling sederhana — seperti ajaran fan tuntunan dari semua agama sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu atau birahi dari diri sendiri untuk menggagahi pihak lain.

Cara yang lebih baik dan terpuji untuk mengatasi nafsu dan birahi menggagahi itu adalah kembali pada kedalaman hati yang menjaga nurani insani manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dan hanya dengan begitu, rahmatan lil alamin mampu dirasakan penuh nikmat bagi seluruh makhluk dan seisi jagat ini. Yaitu, dari Tuhan, manusia dan alam raya dengan siklus alamiah — sunnatullah kembali untuk kemuliaan dari manusia sebagai ekspresi dari keyakinan kepada Tuhan.

Jadi begitulah, tradisi perang dalam sejarahnya yang bermula dari masyarakat primitif terus menjadi budaya yang merusak jalinan peradaban manusia yang seharusnya dapat lebih memuliakan Tuhan dan manusia dengan alam sebagai ciptaan-Nya.

Banten, 15 April 2024

Paparan singkat ini sekedar untuk memenuhi titah sebagai nara sumber acara “Multiversum Senin Pharma”, 15 April 2024, via Daring.

Penulis Jacob Ereste

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.