NEGERI MARITIMLAH INSPIRASI KITA

Opini
Bagikan:

Oleh : Yudhie Haryono

Judul Buku: Kemaharajaan Maritim Sriwijaya.
ISBN: 978-602-9402-52-0.
Penulis: OW Wolters.
Penerbit: Komunitas Bambu Depok.
Kelompok: Sejarah.
Tebal: xvii + 458 hlm.
Tahun Cetak: 2014.

T3lusur.com Jakarta Epik pustaka jalur rempah makin dinikmati. Moga-moga suatu saat kita revitalisasi hingga punya kurikulum, industri, pasar, agensi dan kampusnya. Ya. Nusantara pernah kiyamat. Saat terjadi letusan kedua gunung Krakatau. Kiyamat ini menjadi faktor pendorong para tetua bangsa Melayu untuk meyatukan diri dalam satu koalisi antar kerajaan, yang tujuannya adalah meminimalisir ancaman invasi dari bangsa asing.

Koalisi yang dikenal dengan nama Kedatuan Sriwijaya ini, semakin kuat, ketika Dapunta Hyang Jayanasa dipercaya sebagai pimpinan koalisi, selain sangat disegani, beliau juga merupakan menantu dari Raja Linggawarman dari Kerajaan Tarumanegara.

Sriwijaya kemudian menjadi kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak pengaruhnya di Asean. Bukti awal soal adanya kerajaan ini asalnya dari abad ke-7; seorang pendeta Cina, I-Tsing, menulis dirinya pernah mendatangi Sriwijaya tahun 671.

Prasasti pertama soal Sriwijaya asalnya dari abad ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palémbang, Sumatra Selatan, tahun 683. Dalam bahasa Sansekerta, sri artinya “bacahaya” dan wijaya artinya “kemenangan.”

Sriwijaya akhirnya eksis menjadi kerajaan bahari terkenal di dunia yang membentangkan jaringannya dari India hingga ke Tiongkok, dalam bidang ekonomi maupun agama.

Namun demikian nama Sriwijaya lama terlupakan sebelum akhirnya seorang sejarawan Prancis, George Coedes, membuktikan pada tahun 1918 bahwa nama Sriwijaya yang muncul dalam prasasti Melayu Kuno, yang waktu itu baru ditemukan di Sumatera Selatan, juga tercantum dalam sumber-sumber tertulis dari Tiongkok, India dan dunia Arab.

Tentu itu semua setelah George Coedes mendedikasikan dirinya pada kajian epigrafi Sriwijaya dan pada studi bahasanya.

BACA  IMAN ITU PERENIAL SEDANGKAN TEKS ITU PROFAN~

Buku ini memberi informasi bahwa, berbagai prasasti dan peninggalan itu menggambarkan Sriwijaya telah berkembang sebagai kerajaan maritim yang besar, yang melakukan ekspansi hingga menguasai wilayah Malayu, Pulau Bangka, dan Lampung. Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, Sriwijaya dapat menguasai jalur perdagangan internasional, serta pelayaran dari India ke China dan sebaliknya.

Berita dari China dan Arab menyebutkan, kapal-kapal Sriwijaya juga berlayar ke China dengan membawa berbagai komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas, dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau kain sutra. Inilah penegasan dan bukti riil adanya jalur rempah nusantara yang mendunia.(*)

Penulis adalah Rektor Universitas Nusantara

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.