Seruan indonesia damai

Seruan “Wolu Wali” Spiritual Untuk Indonesia Damai

Liputan
Bagikan:

T3lusur.com Jakarta Seruan delapan wali spiritual Indonesia dari Kathedral Jakarta, pada 6 Desember 2023, satu diantara yang penting adalah mendesak pemulihan rasa keadilan untuk rakyat. Membersihkan institusi penegak hukum dari unsur KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), serta melakukan pengawasan dengan berbagai upaya penegakan hukum, sesuai dengan perundang-undangan dan hati nurani rakyat.

Dan yang tak kalah penting adalah segera mewujudkan “rekonsiliasi nasional” serta keakraban para pemimpin bangsa, pemimpin agama dan pemimpin politik untuk menyelamatkan kehidupan bangsa, kehidupan demokrasi yang beretika, dan lebih serius mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seruan delapan orang wali spiritual Indonesia ini yang mewakili masing-masing agama dan kepercayaannya ini ditandai tangani bersama “Wolu Wali” Spiritual Indonesia ini, yaitu Dr. KH. Marsyudi Syuhud, Pimpinan Agama Islam (NU), sekaligus menjadi juru bicara, Prof. Dr. Abdul Mu’ti M.Ed., Pimpinan Agama Islam (Muhamadiyah yang diwakili oleh Dr. Isanul Muslimin), Ignatius Kardinal Suharyo, Pimpinan Keuskupan Jakarta, Pendeta Gomar Gultom, Pimpinan Agama Kristen, Prof. Philil K. Wijaya, Pimpinan Budaya Buddha, Mayjen TNI Purn. Wisnu Bawa Tanaya, Pimpinan Agama Hindu, XS. Budi S Tanuwibowo, Pimpinan Agama Konghucu, dan Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pimpinan Spiritual Nusantara.

Yang tidak kalah penting dari seruan yang lebih terkesan sebagai pernyataan sikap serta tuntutan ini (item kelimanya) tuntutan Wali Wolu ini adalah membangun kesiapan nasional untuk mewaspadai berbagai kemungkinan dari turbulensi politik dan berbagai ancaman, tantangan, gangguan hambatan keamanan yang membahayakan dan merugikan kepentingan nasional.

Seruan Indonesia Damai ini menurut Dr. KH. Marsyudi Syuhud akan terus dilakukan secara bergilir setiap pekan sesuai dengan permintaan tuan rumah (pengunduh) “Forum Wolu Wali” Spiritual ini, seperti yang telah diawali dari Kathedral, Jakarta ini dengan kesediaan Romo Ignatius Kardinal Suharyo. “Insyaallah Minggu depan di MUI ( Majlis Ulama Indonesia) atau di NU (Sekretariat Pengurus Pusat Nahdhatul Ulama), imbuh Kyai Marsyudi Syuhud.

BACA  Semarak Minggu Pagi Dalam Tour de Campus AAU

Secara khusus, Kardinal Suharyo berharap terpeliharanya kehidupan yang beretika, tak hanya untuk Pemilu, tetapi juga untuk masa depan bangsa Indonesia seterusnya.

Dan etika serta moral ini, menurut Kardinal termasuk untuk tidak mensiasati peraturan perundang-undangan yang sudah kita sepakati bersama. “Sebab Pemilu hanya satu momentum lima tahun sekali. Tapi untuk menjaga demokrasi dengan terus menguji etika, moral dan akhlak mulia kita sebagai manusia, harus selalu terjadi dan beradab”, tandas Kardinal.

Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Wali Spiritual Nusantara menyampaikan pesan khususnya dengan bahasa bumi (atau bahasa langit). Karena itu, dia menekankan pada saat yang baik ini perlu adanya ikatan dengan satu tapi komando kepemimpinan seperti yang dilakukan lewat Forum Seruan Indonesia Damai yang dipelopori oleh para pemimpin agama-agama yang ada di Indonesia. Jadi Seruan Indonesia Damai ini dilakukan atas rasa keprihatinan yang mendalam demi dan untuk masa depan bangsa, maka itu segenap komponen bangsa diharap menjaga persatuan dan kesatuan serta senantiasa mengedepankan kepentingan nasional. Demikian seruan para segenap Pemimpin Agama-agama dan pemimpin spiritual Nusantara telah dimaklumatkan pada sessi pertama dapam pertemuan yang akan menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia ini. Jacob Ereste :

Kathedral, Jakarta, 6 Desember 2023

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.