petruk

Runtuh Kekagumanku Kepada Sang Presiden

Opini
Bagikan:

Oleh : Yusuf Mujiono

T3lusur.com Jakarta Rasanya sembilan tahunan ini kita diberikan harapan baru akan seorang pemimpin yang melayani, merakyat dan peduli kepada warganya. Istilah banyak orang pemimpin kita ini sudah selesai dengan dirinya. Sikapnya yang rendah hati tak pernah membalas ketika di kritik bahkan di caci maki. Pemimpin yang benar-benar memberi diri untuk rakyat dan bangsanya.

Kita tak memungkiri bahwa selama kepemimpinannya banyak kemajuan yang dicapai pembangunan infrastruktur yang masiv baik pembangunan jalan, jembatan, bandara, pelabuhan dan kawasan perbatasan membuat Indonesia menjadi bangsa yang diperhitungkan.

Keberaniannya itu yang menjadi poin penting bagaimana Indonesia di pandang dan diperhitungkan kehadirannya di negara lain. Tulisan terkait dengan sepak terjang Pemimpin kita Presiden Jokowi di muat di berbagai media tentang Politik Jokowi tingkat dewa harus diakui.

Kebanggaan bagi masyarakat kecil yang tadinya Jokowi bukan siapa-siapa artinya dia bukan anak pejabat, anak konglomerat apalagi anak presiden tetapi bisa menjadi presiden dan memimpin bangsa dengan benar patut dijadikan role model.

Namun sayang jelang akhir masa jabatannya, impian tentang pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya itu langsung sirna. Sikapnya yang membiarkan bahkan terbaca jelas membiarkan putranya menjadi cawapres Prabowo ini menjadi nohtam hitam bagi perjalanan kepemimpinanya yang gilang gemilang.

Dalam setiap wawancara Jokowi selalu menampik dia dibelakang anaknya yang maju menjadi cawapres, dengan dalih karena dia sudah dewasa. Dia sang anak bisa menentukan pilihannya sendiri. Itu hanya sekedar bosa basi yang basi. Tetapi semakin jelas ini adalah cara melanggengkan kekuasaan lewat putranya.

Ngono yo ngono tapi yo ojo ngono, sebagai orang timur etika dan balas budi itu diutamakan. Hidup itu bak roda yang berputar, sekuat apapun kita bertahan diatas roda tetap saja ada batasan. Falsafah Jawa mengatakan eling lan waspodo, itu perlu digembol (dihayati). Semua petuah dan sejarah itu sudah tercatat bukan semata untuk ditiru tetapi sebagai contoh dalam kehidupan.

BACA  Tak Ada Alasan Ragu Menentukan Pilihan Presiden

Ken Arok memang bisa berkuasa karena membunuh dan mengkhianati orang yang merekrutnya yakni Tunggul Ametung, tetapi sejarah juga mencatat bagaimana kehidupan yang ditanggung bukan saja Ken Arok tetapi juga keturunannnya, saling membunuh antar saudara.

Wong iku ngunduh wonge pakarti, kalau ada orang yang ngga tahu berbalas budi nanti juga akan mengalami nasib yang sama, mungkin bukan kita tetapi anak keturunannya.

Jangan berdalih dengan pembenaran, karena tidak dihargai merasa diremehkan dan sebagainya. Lalu wajar kalau melakukan perlawanan, semut saja kalau diinjak akan membalas apalagi manusia. Itu hanya dalih, toh dari awal sudah tahu dan pasti ada deal-deal yang disepakati ketika masuk dalam wadah itu.

Kedepankan politik yang beretika, politik yang menjunjung tinggi ideology. Jangan mengikuti kata orang itulah politik. Apakah politik itu dengan cara menghalalkan cara untuk meraih kekuasaan, kalau ini yang terjadi benar pandangan selama ini bahwa politik itu hitam, politik itu kotor.

Maka kalau itu yang terjadi runtuhlah apa yang dikatakan politisi gaek (Alm) Sabam Sirait bahwa politik itu suci. Kalau yang kita tonton sekarang politik menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Termasuk mengakali hukum dan perundangan, memajukan bukan kadernya tetapi menlikung kader partai lain.

Namun, di tengah tontonan politisi yang mabuk jabatan, politisi yang mabuk kekuasaan dan juga mabuk materi.  Kita yang waras tetaplah berpegang politik itu punya etika, punya jati diri dan ideology. Sehingga Indonesia kuat tetapi juga sejahtera tanpa lompat pagar seenak wudelnya.

Penulis praktisi media 

 

 

 

 

 

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.