ARAH BARU KAJIAN PSIKO SUFISME

Opini
Bagikan:

Oleh : Yudhie Haryono

T3lusur.com Jakarta Buku ketujuh yang kuhadirkan ke pembaca berjudul “Perbincangan Psikologi Sufi.” Ini buku terjemahan dari aslinya yang berjudul Criticism of Islam Psychology. Buku ini ditulis oleh Lynn Wilcox, setebal 410 hlm, diterjemahkan oleh Nurlyta Hafiah dan dibandrol dengan harga Rp. 275.000,-

Tentu, ini buku keren yang diterbitkan Kalam Nusantara Jakarta, tahun 2017 dan berISBN 978-602-7696-64-8.

Sufi dan psikologi, atau dibalik: psikologi dan sufi sudah lama punya banyak irisan. Dan, buku ini mencoba membahasnya. Beberapa irisan yang jadi tema selling pointnya adalah: sejarah psikologi dan sejarah sufi; tujuan psikologi dan sufi; metodologi psikologi dan sufisme; sensasi dan persepsi; belajar dan kognisi; motivasi dan emosi; aktualisasi diri; kepribadian; agama; cinta, kebimbangan, keragu-raguan dll.

Wilcox memulai pembahasan dengan pertanyaan menarik, “Apa jadinya bila seseorang merasa bingung dengan pikiran dan perilakunya sendiri?”

Ia menjawab sendiri dengan mengatakan, “Ada dualisme kepribadian dalam diri seseorang, yang satu mengarah pada keburukan, sedangkan yang lain mengajak pada kebaikan. Aktualisasi kepribadiannya kemudian ditentukan sepenuhnya oleh “nilai” yang memenangkan pertarungan kepribadian tersebut.”

Dan, ternyata, mayoritas kita justru mengidap problem kepribadian itu, yang pada tingkat lanjut berakibat pada dominannya rasa berdosa, bersalah, gelisah, bahkan dalam beberapa kasus berakhir dengan kegilaan atau bunuh diri. Padahal, tidak seorang pun menginginkan hal ini terjadi!

Lantas apa yang mesti dilakukan? Buku ini memberikan solusinya. Melalui lembar demi lembarnya, kita diajak untuk memahami integritas pribadi kita ke arah positif menggunakan metode psikoterapi Barat dan Islam (metode sufi).

Wilcox telah menemukan bahwa kebijaksanaan itu ada, yang kemudian ia ungkapkan dalam tulisannya mengenai psikologi yang komplit. Tidak hanya mengarah pada psikologi yang berkisar pada pola-pola perilaku dan mengabaikan ide tentang akal pikiran (mind) dan jiwa (soul).

BACA  Jacob Ereste : Sosialisme dan Islam Dalam Pemahaman Spiritual

Wilcox memberikan definisi yang orisinil tentang kata psikologi, kemudian dengan bijaksana ia memberikan pandangan tentang sumbernya, yakni Tuhan, sebuah ide yang tidak pernah diselesaikan oleh psikologi tradisional.

Manusia pasti gundah dengan pertanyaan abadi yang selalu ditanyakan oleh dirinya. Siapa saya? Apakah tujuan hidup saya? Apakah kebenaran? Apakah kegantengan dan kecantikan? Apa itu cinta? Apa itu kebaikan? Adakah kehidupan setelah mati? Bagaimana saya dapat menemukan kedamaian? Siapa atau Apa Tuhan itu? Bagaimana cara menemukan Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tentu bukan hanya mau dijawab dengan psikologi tapi juga metode sufi. Tentu saja, proses dialognya harus bersifat konseptual, komparatif, dan praktis. Sehingga, adakalanya psikoterapi Barat dan Islam bisa dijalankan secara beriringan atau berdasarkan prosedur masing-masing.

Pembaca tinggal memilih: proses konseling Barat atau Islam, atau keduanya sekaligus. Yang pasti, proses apa pun yang pembaca terapkan, semuanya bertujuan membentuk kepribadian yang kokoh, sehat, dan penuh dedikasi.(*)

Penulis adalah Presidium Forum Negarawan

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.