Duet Eko Sriyanto G dan Prof Yudhie H Bangkitkan Ordo Spiritualitas di Kampus Muhamadiyah

Liputan
Bagikan:

T3lusur Purwokerto Dwi tunggal Sri Eko Sriyanto Galgendu dan Prof. Yudhie Haryono, Ph.D dalam pergerakan kebangkitan spiritualitas untuk penyelamatan bangsa, dilakukan melibatkan berbagai kalangan. Semisal mahasiswa, Dosen, wartawan dan masyarakat umum.

Pesan ini terungkap dalam acara diskursus bertajuk Inspirator bangkitnya ordo spiritualitas di Universitas Muhammadyah Purwokerto (UMP), Jawa Tengah Sabtu (18/02). Diskursus diikuti tidak kurang dari 50-an mahasiswa UMP.

Sri Eko Sriyanto Galgendu sang inspirator adalah pendiri Posko Negarawan dan Ketua umum  GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia). Keduanya adalah lembaga yang konsen melakukan pendidikan perkaderan kenegarawan dan kepemimpinan nasional. Untuk membuktikan langkah melahirkan para negarawan duet Eko dan Prof Yudhie baru-baru ini getol melahirkan  posko NEGARAWAN diberbagai wilayah Indonesia.

Dalam paparannya Ekos Sriyanto yang akrab disapa mas eko ini di depan para mahasiswa Muhamidayah mengajak bagaimana cara anak muda khususnya mahasiswa mampu menjadi negarawan ke depannya.

“Bagaimana kita menemukan kebesaran dan keagungan Tuhan melalui Alam, salah satu nya adalah matahari, bumi, bulan, bintang dan lainnya”, cetus sang inspirator.

Eko juga terangkan keberhasilan orang-orang sukses karena kejujuran dan keterbukaan. menggunakan hati bukan akalnya. “Sebab akal kerapkali membuat kita jadi nakal”, tandasnya.

Lebih lanjut, Eko ungkapkan hipotesa kelanggengan Indonesia sebagai bangsa Timur perlu memanage otak dengan hati dan jiwa. “Memakai hati jadi lebih perduli. Kenikmatan hidup bersyukur dan ikhlas. Dan setiap permasalahan akan dikaji lebih dalam lagi,”jelasnya.

Dalam sesi tanya jawab pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakuktas Hukum (FH UMP) Yanuar, bertanya hubungab religiusitas, intelektualitas dan humanitas. “Ilmu tanpa Agama Buta, Agama tanpa ilmu adalah lumpuh”, kata Yanuar mengutip sebuah puisi.

BACA  RENAISANS SPIRITUAL MENJADI CAHAYA PEMUSNAH KEGELAPAN INDONESIA

Menjawab pertanyaan tersebut sang inspirator membacakan syair seperti halnya Jalaludin Rumi.

Prof. Yudhie, sang komunikator dalam perspektif sosiologis yakni peradaban berbackbone (bertukangbelakang….red) Materialism, Intelektualism, dan Spiritualism. dimana dunia Barat mengedepankan materialism dan Intelektualism sementara dunia Timur adalah Intelektualism dan Spiritualism.

“Sifat material tapi tidak menjadi isme, semua adalah titipan dari Allah SWT, ujar Prof. Yudhie. Menurutnya bagaimana kita menghibridasikan materi, intelektual dan spiritual menjadi tradisi. Berpikir beyond religion dalam konteks Ke Indonesiaan. “Perang nirmiliter membutuhkan solusi yang substantif.agar kita bisa melewati keributan kecil yang tidak substantif,” cetusnya.

Menurut Abid Hanifi Samlia, Presiden Mahasiswa (Presma) KM Universitas Muhammadyah Purwokerto (UMP) periode 2022 – 2023, berharap melalui kegiatan diskusi ini peserta mahasiswa bisa terbuka dalam mengetahui spiritualitas kepemimpinan. “Semakin banyak lahirnya jiwa-jiwa pemimpin dimulai dari mahasiswa”, kata Abid. Diberitahukan Abid, peserta yang hadir adalah mahasiswa yang aktif di Organisasi Fakultas dan UKM, berjumlah tidak kurang dari 46 peserta.

Senada dengan Abid, wartawati Nas Sibarani dalam sesi tanya jawab mengatakan pentingnya diskusi mencari Negarawan ini dilakukan ditingkat desa atau kelurahan. “Saya sangat apresiasi inspirasi yang disampaikan Sri Eko Sriyanto Galgendu dan Prof. Yudhie yang membangkitkan jiwa kebangsaan mahasiswa, tandas Nas Sibarani sambil pekikkan kata merdeka!!!.

Penulis : Endharmoko/Yus

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.