Fenomena Citayam Week Yang Patut Disikapi Dengan Bijak

Terkini
Bagikan:

Depok t3lusur.com Citayam Fashion Week merupakam fenomena menarik untuk disikapi secara bijak. Karena CFW ini merupakan kreasi anak-anak muda yang tidak memperoleh tempat atau panggung seperti politisi atau mereka yang mempunyai profesi tertentu untuk menyalurkan bakat serta kreatifitasnya yang mengumpulkan dan membekukan, karena tidak mendapat tempat menyalurkannya agar tidak menjadi semacam prostat yang mengganggu pertumbuhan yang seharusnya dapat dikembangkan.

Setidaknya, selama tidak mengganggu ketertiban umum, toh tidak ada yang salah — atau dapat dicarikan alasan penindasan maupun pekarangan — atas dasar Undang-undang atau peraturan. Karena sejauh ini, menurut penelisikan penulis, tidak ada satu pasal pun dalam Omnibus Law atau UU Cipta Kerja yang mengatur maupun melarang CFW itu dilakukan oleh anak-anak muda yang bisa tersubat bakat dan minat mereka untuk menemukan jati dirinya yang sejati guna menghadapi budaya global hari ini untuk masuk belantara masa depan yang semakin riuh tantanganannya. Utama dalam hal menciptakan suatu bidang pekerjaan yang bisa ditekuni dan dikembangkan dengan segenap potensi mereka yang ada.

Toh, tak hanya Gubernur Jakarta yang menyikapi kehadiran CFW itu dengan bijak serta tidak keberatan untuk terus dilanjutkan — jika tidak bisa dikliem justru mendukung seperti Presiden Joko Widodo — karena kalau mau jujur fenomena dari CFW ini semacam kegagalan dari pihak yang kompeten memberi perhatian pada para pemuda dan adik-adik remaja itu untuk diberi wadah, tempat atau semacam sanggar dan gelandang remaja yang kosong melimpong lantaran hanya melihat bakat dan minat kaum remaja itu hanya dari satu sisi — fisik atau oleh raga semata — karena tidak mampu melihat perkembangan kejiwaan kaula remaja itu dari sisi psikologis seni, budaya, apalagi Etika, moral dan akhlak yang lebih terpaut dengan hal-hal batiniah.

BACA  BNN Dan GMDN Memberikan Bantuan Sembako Wujud Kepedulian Kepada Jurnalis

Bakat dan minat itu memang tidak harus selalu searah, namun keduanya akan sangat tergantung pada saluran yang tersedia. Sehingga pada muaranya akan menemukan kesejatian dirinya yang otentik berkat penemuan sendiri yang diyakini sebagai suatu pekerjaan yang tidak cuma bisa atau dapat membahagiakan dirinya, tetapi juga mampu untuk dijadikan bekal atau semacam pegangan hidup yang dapat memuliakan dirinya sebagai manusia.

Jacob Ereste wartawan sinior

Fenomena kreatif anak-anak muda itu pun, sepatutnya dapat diterima dengan lapangan hati — bahwa CFW itu merupakan cara mereka yang terbaik untuk menemukan jati dirinya yang sejati, ketika dk rumah dan di lingkungan tempat tinggalnya tidak mendapat tempat yang layak untuk dapat mengekspresikan diri secara wajar dalam usia pertumbuhan yang sedang penuh ide dan gagasan untuk menemukan sesuatu termasuk kepribadian yang perlu dikukuhkan sebagai identitas diri yang nyata.

Karena itu, sikap melarang atau mencegah anak-anak muda itu untuk tampil di SCBD (Sudirman , Citayam, Bogor dan Depok) perlu disikapi secara bijak. Tak hanya sekedar melakukan pekarangan, sementara aturan yang melarang tak juga ada yang bisa dijadikan patokan. Maka sikap yang bijak adalah memberi arahan, agar bakat dan mjnat anak-anak muda tidak sampai tersumbat, setidaknya jika belum dapat memberikan jalan terbaik bagi mereka, seandainya pun belum mampu membyatkan tempat yang representatif memenuhi minat dan selera mereka untuk lebih mematangkan kepribadian diri mereka yang sejati. Sebab, dapatlah diyakini bahwa mereka itu tudak akan lama berasyik-adyik ria seperti itu, setelah merasa yakin telah menemukan sesuatu untuk dirinya masing-masing. Dan budaya baru di SCBD itu boleh saja terus berlangsung dengan generasi yang berganti, termasuk model dan gaya tampilan mereka akan terus menerus diperbaharui, agar dapat memiliki daya tarik maupun kritik dari generasi yang baru pula akan terus berdatangan.

BACA  GF1 DEKLARASI DUKUNG GANJAR NEXT PRESIDEN 2024

Yang penting, saya kira asalkan semua masih dalam takaran dan norma yang wajar dan pintas, biarlah anak-anak remaja kita itu mencari jati dirinya yang sejati. Tentu saja, sikap awas dan pengawasan perlu juga diberikan agar mereka tetap berada dalam tatanan Etika, moral dan akhlak yang tak bejat.

Fenomena Citayam Week perlu kita sikapi secara lebih bijak, toh bisa dibanding lurus dengan perilaku bejad, kontra produktif atau bahkan kenakalan yang lebih tidak jelas arahnya — mabuk dan kecanduan narkoba — jelas lebih mengerikan, apalagi bagi keluarga yang pernah langsung merasakan dera dan deritanya.

Penulis

Jacob Ereste

 

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.