Mayjen Purn TNI Wisnu Bawa Tenaya Sabam Sirait Tampil Secara Universal Tak Kenal Menyerah dan Berani

Terkini
Bagikan:

T3LUSUR-JAKARTA Sabam Sirait Politisi Negarawan di mata tokoh lintas agama adalah tema diskusi publik yang di gelar Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia atau PEWARNA Indonesia. Diskusi yang menghadirkan para tokoh lintas agama tersebut salah satu narasumbernya adalah Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen Purn. TNI (Purn) Wisnu  Bawa Tenaya

Dalam paparannya mengenai sosok Sabam Wisnu yang juga anggota BPIP ini,  melihat  sosok Sabam Sirait dari banyak literasi yang dibacanya, dan buku-buku karena rentang waktu usia yang jauh. “Saya mencoba mereflesikan beliau, bahwa sampai usia sepuh masih mengabdikan diri ke NKRI,” ujarnya mengawali.

Dengan tegas Wisnu melihat bahwa Sabam memposisikan dirinya  duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, telah dibuktikan  Sabam Sirait. Dia juga  lintas persaudaraan. “Saya kira beliau ini seperti prajurit komando, dia selalu oleh pikir dan sehat. Sangat bisa menentukan sikap. Melihat secara universal, tak kenal menyerah dan tampil berani. Selalu berjuang ke kebhinnekaan,” paparnya.

Menurutnya, sosoknya pantas jadi keteladanan generasi XYZ. Kalau Soekarno terkenal dengan  pertahanan semesta dan Hatta dengan koperasi, maka  Sabam Sirait di legilislatif, dia menunjukkan keteladanan  kalau di Hindu disebut caturwindu. Mengabdikan diri ke NKRI  sampai akhir hayatnya.

Mantan Danjen Kopasus ini mengingatkam tidak ada instant, semua harus dengan usaha dan tindakan. Perlu belajar dan latihan.  Anak muda harus mencontoh Sabam Sirait yang meniti karir dari bawah namun  tetap belajar sampai akhir hayatnya.

“Negara telah memberi penghargaan Bintang Mahaputera sebagai bukti pengabdiannya kepada negara. Karena itu layak, Sabam Sirait menjadi Pahlawan Nasional,”ungkapnya.

Selain Wisnu juga disampaikan Bikhu Banthe Dammasubho Mahatera (Budha) agar memandang peran politisi dari  kacamata alam, bingkai kesunyataan. Artinya memandang dari semua sisi yang berbeda, sehingga bisa menarik kesimpulan bukan keputusan. Seperti Budha memandang dunia, bagaimana memandang politisi, negara dan pandangan secara agama.

BACA  PD PEWARNA DIY Audensi Dengan Danrem 072 Pamungkas

“Politik itu, adalah cara. Politea, semua ada. Budha memandang  dua, memandang wilayah duniawi dan duniawi spritual.  Parameternya, apakah saya kira apakah dia memiliki idealis, dinamis atau pluralis. Orang tumbuh ideologi yang kuat. Dinamis bisa menempatkan diri. Sedangkan Pluralis itu perpaduan ideologis dan dinamis,” urainya.

Kalau di Indonesia, pernah Presiden SBY memberikan Gus Dur Bapak Pluralis. Karena dia datang ke semua agama dia disambut, dia tidak kehilanganan ideologi. Tokoh-tokoh, yang masuk itu, apalah ideologis, dinamis dan pluralis.

“Saya juga mengintip kiprah Pak Sabam ini dalam politik. Jadi dari parameter itu, ketiga sosok Sabam Sirait miliki,” ujar Bhiku yang lama mengabdi di Bangkok, Thailand.

Menarik dalam diskusi yang digelar secara hibryd ini di mana semua sepakat bahwa Sabam tak perlu diragukan lagi dalam memperjuangkan demokrasi dan kesetaraan, diskusi juga menampilkan lima tokoh lintas agama ada Pdt Jacky Manuputy Sekum PGI, Romo Benny dari KWI dan tokoh muda daro NU Ishaq Zubaedi Raqiq.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.