Silaturrachmi GMRI ke Vihara Toa Se Bio, Jakarta Barat Sepakat Membuat Program Diskusi Bersama

Liputan
Bagikan:

Jakarta t3lusur Silaturrachmi Tim GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) dalam upaya memenuhi undangan Andi dari Vihara Toa Se Bio yang berada di Jl. Kemenangan III No. 13, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, pada Senen petang, 11 April 2022 langsung diterima oleh Ketua Vihara, Arifin di Kantornya yang berada di kompleks Vihara Budha yang terbilang megah di Ibu Kota Jakarta.

Kunjungan Tim GMRI ke Vihara Budha Toa Se Bio diawali dengan melihat tempat ibadah warga Tionghoa sudah terbilang tua ini. Sebab dari sejarah berdirinya tercatat sudah dibangun pada tahun 1660. Artinya, sampai hari ini, usianya tak kurang dari 362 tahun.

Kelengkapan sarana dan tempat peribatan warga Tionghoa ini seperti terbagi paling lengkap dan komplut, terdiri dari puluhan kapling untuk beragam Dewa yang jadi kepercayaan dan keyakinan bagi umumnya warga Tionghoa.

Dahulu sebutan tempat ibadah warga Tionghoa ini belum disebut Vihara, karena sejatinya dahulu disebut kelenteng. Sedangkan dalam wujud kementeng, keberadaannya pun tak kalah tua dari kelenteng yang ada di Serpong, Kota Tangerang Selatan itu yang tercadat didirikan pada tahun 1694.

Di dalam Vihara Dharma Jaya yang juga acap disebut Tao Se Bio ini ada paling sedikit 20 kapling untuk para Dewa yang diposisikan secara khusus, sehingga semakin dapat diyakini dapat memberi semacam berkah yang banyak. Apalagi keberadaan dari Vihara Budha ini dapat dikatakan sebagai satu-satunya yang ada serta paling lengkap fasilitasnya.

Ruang khusus bagi Dewa Cheng Guan Cheng Kun, misalnya ialah bagian dari salah satu penempatan dari Dewa yang dipercaya akan mendatangkan berkah bagi umat Toa Se Bio.
Y
Usai melihat semua ruang tempat beribadah itu, GMRI diterima langsung oleh Ketua Vihara yang berasal dari klenteng yang juga bernilai sejarah masa lalu ini.

BACA  Perkuat Pemahaman Dunia Pajak, UPH Jalin Kerja sama dengan DJP Banten

Selaku Ketua Vihara, Arifin justru sangat terkesan pada budaya Jawa yang sarat dengan simbol dan nilai-nilai filsafat para leluhur. Karenanya, Arifin cukup pasih dan piawai berdiskusi tentang budaya dan filsafat Jawa, seperti ojo dumeh hingga hajekat dari apa yang dimaksudkan oleh Sabdo Palon sampai utlbtaian makna tentang tut wuri handayani yang terkenal dari pemikiran Ki. Hajar Dewantoro alias Suryadi Suryaningat, kerabat keraton Paku Alam yang membangun Lembaga Pendidikan Taman Siswa.

Kerenanya, tak heran bila Arifin pun menaruh minat pada bidang pendidikan, hingga dia bersama yayasan binaannya memiliki lembaga pendidikan mulai dari tingkat paling dasar — Taman Kanak-kanak — sampai sekolah tingkat menengah yang bereda tidak jauh dari kawasan Vihara Toa Se Bio yang dikelonya sejak tahun 1990-an silam sampai sekarang.

Pertemuan singkat antara Tim GMRI yang dipimpin langsung oleh Eko Sriyanto Galgendu sepakat memadukan program kegiatan bersama dengan Vihara yang dipimpin Arifin, untuk mrlakukan acara dialog atau diskusi rutin setiap bulan, hingga aktivitas lain yang intinya untuk membangun gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual guna menjadi basis pertahanan serta ketahanan budaya bangsa Nusantara yang diharap bisa melampaui masa kejayaan Sriwijaya maupun kejayaan Majapahit di masa lampau.

Maka itu, orientasi program kegiatan akan terfokus pada kajian dan pendalaman nilai-nilai luhur bangsa Nusantara yang berbasis spiritual. Hingga dalam waktu singkat dapat lahir segera pemimpin maupun para wali spiritual dari berbagai tokoh agama yang ada di Indonesia, kata Eko Sriyanto Galgendu yang terus disambut baik oleh Arifin yang berjanji akan segera mewujudkan program bersama itu dalam bentuk diskusi atau dialog rutin setiap bulan.Jacob Ereste :

BACA  Silaturrachmi, Diskusi dan Refleksi LPK Indonesia

Jakarta Barat, 11 April 2022

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.