Dokter Fernando Antonio Rening, S.Ked. Lulusan Terbaik Fakultas Kedokteran Maranatha Bandung

T3LUSUR
Bagikan:

Jakarta t3lusur Mengawali masa pendidikan SD di Sekolahan Strada, Duren Sawit, Jakarta Timur. Melanjutkan di SMP Kolese Kanisius Jakarta. Menjalani masa pendidikan di SMA Negeri 71 Jakarta dan berhasil lulus sebagai salah satu peserta dengan nilai tertinggi. Melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Demikian sosok muda dokter Fernando Antonio Rening pria kelahiran Januari 1997 ini.

Menurut Nando demikian nama kesayangan ke dua orang tuanya mengakui dengan kerja keras serta doa dan dukungan dari kedua orang tuanya dia berhasil menyelesaikan materi kuliah kedokteran dengan tenggat waktu 3 tahun, 2 bulan untuk maju ujian skripsi guna meraih sarjana kedokteran. Fase sesudahnya, Nando, demikian sapaan akrabnya menjalani masa Ko-As dokter sesuai tuntutan profesi yang akan dijalani.

Pada fase terakhir di Fakultas Kedokteran ini, berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik dari Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha, Bandung cumelaude. Diumumkan pada acara Janji/Sumpah Dokter periode Oktober 2021, Jumat, 08/20/2021 dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif): 3,76. Atas pencapaian sebagai lulusan terbaik ini, dokter Nando didaulat untuk pidato mewakili 83 dokter lainnya dalam acara pelantikan ini.

Fernando Antonio Rening merupakan putra sulung dari empat bersaudara. Anak dari pasangan Dr. Stefanus Roy Rening, SH, MH dari ibu Margret Situju. Ayahnya adalah pemilik sekaligus pimpinan dari Firma Hukum Law Firm SRR & Partners.

Nando, menjelaskan bahwa “awalnya menjadi dokter adalah karena di dorong oleh orang tua. Namun, setelah menjalani kedokteran butuh perjuangan. Sebagai dokter harus belajar dan berjuang, karena dokter menangani manusia, menyangkut nyawa”, jelas pria kelahiran 31 Januari 1997 ini.

Selama pendidikan yang perlu dipersiapkan selama studi adalah belajar mandiri. “Awalnya, saya kesulitan masuk kedokteran, karena cara belajarnya keras dan teman-teman yang masuk kedokteran juga orang-orang yang sangat hebat-hebat”.
“Saat menemukan cara belajar sendiri perlu dikembangkan pada eksplorasi belajar dan bisa memaksimalkan waktu belajar”, jelas pria berkacamata ini.

BACA  PN Jakarta Pusat Menggelar Sidang Sela Atas Perkara Tuduhan Pendeta Gadungan

“Butuh eksplorasi sendiri untuk belajar, karena di dalam kedokteran ilmunya sangat luas, karena apa yang diajarkan oleh dosen saat dalam kelas, perlu digali dan dieksplorasi, supaya ilmu bisa berkembang”, tambahnya.
Lebih lanjut Nando berkata “Saya punya rasa keingintahuan yang tinggi dalam pembelajaran sehingga harus terus mengeksplorasi setelah selesai kuliah, supaya bisa mengimbangi”.

“Saat belajar anatomi tubuh saja sangat rumit untuk dipelajari, karena terkoneksi keseluruh ilmu-ilmu lainya seperti fisiologi dan yang lainnya. Belajar terkait tubuh manusia sangat komplek, seperti fisiologi dan yang lainnya”, jelasnya.
Belajar terkait tubuh manusia akan membantu agar bisa mendiagnosis penyakit. “Ilmu yang dipelajari dari anatomi tubuh akan bermanfaat saat akan mendiagnosis penyakit dalam tubuh manusia, sehingga bisa menentukan obat yang sedang sakit”, terangnya.

Dengan pembelajara itu akan mempermudah dalam pemberian obat bagi pasien. “Mempertajam untuk diagnosis gejala dan penyakit yang dihadapi pasien supaya dapat merekomendasikan obat yang dibutuhkan”, tambah Nando.
Terkait gaya belajar, Nando menjelaskan harus bisa memahami gaya belajar sendiri agar bisa masimal. “Setiap orang punya gaya belajar masing-masing, sehingga saya harus mencari gaya belajar agar bisa maksimal dalam belajar” ungkapnya.
Ilmu yang diperoleh saat kuliah akan membuat semakin jeli dalam mendiagnosis penyakit melalui pertanyaan-pertanyaan awal. “Memberi pertanyaan yang mengerucut agar bisa mendiaknosis secara awal”, terangnya.

Nando juga membeberkan proses yang dilaluinya menjadi dokter. “Tahap yang saya lalui setelah lulus SMA, masuk perguruan tinggi untuk kuliah kedokteran. Saat kuliah kependidikan dokter untuk mendapat gelar S.Ked, setelah itu baru masuk lanjut ke profesi dokter. Untuk menjalani koas selama dua tahun. Setelah lulus koas akan ada uji komptensi. Setelah lulus uji kompetensi maka akan angkat sumpah dokter. Setelah selesai sumpah dokter maka akan melanjutkan mengikuti program internship yang difasilitasi oleh pemerintah supaya nantinya setelah selesai internship bisa membuka praktek sendiri”.
Saat sumpah dokter pada 08 Oktober 2021 lalu, peraih IPK 3.76, cum laude, ditunjuk mewakili teman-temanya untuk menyampaikan kata sambutan.

BACA  Pejuang Bravo 5 Bali Gelar Sarasehan “Potret Kerukunan Umat Beragama di Pulau Dewata”

Proses awal kuliah di Fakulta Kedokteran, Nando menjelaskan “saat awal masuk kuliah terus bergumul agar bisa masuk fakultas kedokteran. Setelah tamat SMA saya sudah mencoba kebeberapa perguruan tinggi negeri, namun belum mendapat kesempatan. Pada akhirnya, saat detik-detik terakhir pendaftaran di Universitas Kristen Maranatha akhirnya bisa masuk”, kisahnya.
Terkait banyaknya yang gagal menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran karena tidak siap dana dan daya yag mendukung. “Kegagalan di Kedoktera itu, karena masalah biaya, sehingga harus mengukur kemampuan finansial saat masuk kedokteran. Jangan hanya ikut-ikutan karena kerenya saja di Fakultas Kedokteran, tetapi perlu ada komitmen untuk menyelesaikannya”, pungkas Nando.

Selain dokter Nando, ketiga adiknya juga kini mengikuti jejak sukses sang kakak. Anak kedua, Anggely Agnesia Rening, sudah merampungkan sarjana kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha, Bandung. Perempuan satu-satunya dari empat bersaudara ini, kini sedang menjalani masa Ko-As dokter di fakultas dan universitas yang sama. Sedangkan anak ketiga, Agusto Advocatio Rening, ingin meneruskan profesi ayahnya, kini sedang menjalani kuliah hukum di Fakultas Hukum juga di Universtitas Maranatha, Bandung. Sedangkan putra bungsu, Alfarezio Rening, kini SMA Kelas III di BPK Penabur 4 Jakarta. Sudah dinyatakan lulus seleksi untuk tahun depan di Fakultas Kedokteran dan di Universitas Maranatha, Bandung, kampus yang sama dengan kedua kakaknya sebelumnya, dokter Nando dan dokter Anggie.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Luluskan 83 dokter Baru
Tentang kampus di mana dia menimba ilmu yakni Universitas Kristen Maranatha termasuk 5 Besar Fakultas Kedokteran Terbaik Nasional antaranya Universitas Atmajaya, Universitas Tarumanegara, universitas Maranatha, Andalas dan UNS

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung menyelenggarakan Sumpah/Janji Dokter baru untuk periode Oktober 2021, Jumat, 08/10/2021. Sebanyak 83 dokter baru berhasil dilantik setelah dinyatakan lulus mengikuti Ujian Nasional dalam Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKM PPD) periode Agustus 2021 yang lalu. Acara pelantikan, sumpah/janji 83 dokter baru ini diadakan dalam Sidang Terbuka Senat Janji/Sumpah Dokter Periode Oktober 2021 oleh Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

BACA  Presiden Jokowi Sampaikan Dukacita atas Musibah Sriwijaya SJ 182

Rektor Universitas Kristen Maranatha Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc, PhD, Menjelaskan pada periode ini, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, melantik sebanyak 83 dokter baru. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha kini mencatatkan diri dengan Status Terakreditasi A dan merupakan 5 besar hasil Ujian Nasional periode Agustus 2021. Prestasi kelulusan ini diperoleh setelah mengikuti Ujian Negara dengan prosentase kelulusan mencapai 95 persen untuk peserta di atas 50 orang.

Hasil ujian kompetensi dokter tahun ini, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha berhasil mencapai prestasi 5 besar nasional baik universitas negeri maupun swasta bersama Universitas Atmajaya, Jakarta, Taruma Negara, Jakarta. Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Universitas Andalas, Padang dan Universitas Negeri Solo, Jawa Tengah. Raihan prestasi ini diperoleh setelah mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKM PPD) periode Agustus 2021 dari Panitia Ujian Nasional. Sesuai data yang diterima, hingga kini, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, sudah menghasilkan 4.200-an dokter yang berkarya di seluruh Indonesia.

Sebagai generasi jaman Now Nando berpesan terutama saat mengenang kembali hari sumpah pemuda, agar anak-anak muda mengurangi bermain handphone kalaupun bermain gunakan hal-hal positif. Bagaimanapun Nado merasa prihatin karena minimnya anak-anak muda masa kini yang mengenal lagu-lagu daerah serta tokoh-tokoh nasional kita.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *