Masa Berkelimpahan Telah Berlalu, Masa Berkecukupan Datang Menggantikan. Oleh: Merphin Panjaitan.

Terkini
Bagikan:
Merphin Panjaitan

Jakarta t3lusur Matahari menyinari bumi; menyinari orang baik dan orang jahat; menyinari sikaya dan simiskin;  menyinari hewan, tumbuhan dan seluruh ciptaan lainnya. Matahari tidak pernah berhenti bersinar dan selalu setia memberikan energinya untuk seluruh bumi; tetapi kehidupan manusia dan mahluk lainnya ternyata tidak selalu tercukupi. Dalam kehidupan ini, manusia tidak sebaik matahari; manusia terjerat egoisme, mamonisme dan hedonisme, dan akibatnya  sering melupakan mitra hidupnya, yaitu tumbuhan, hewan dan mikro organisme, dan juga bumi.

Bumi menjadi tempat hidup bersama manusia, tumbuhan, hewan, dan mikro organisme. Bumi terbatas, daya dukungnya terbatas; manusia kemampuannya juga terbatas; demikian pula dengan hewan, tumbuhan dan mikro organisme.  Manusia harus mampu hidup, berpikir, belajar, kerja, berkreasi dan bermain tanpa melewati batas-batas tersebut; karena, dengan melewatinya, manusia sedang mengancam kelangsungan hidup segala mahluk, termasuk hidupnya sendiri; dan juga mengancam bumi, sebagai satu-satunya tempat hidup bersama segala mahluk.

Manusia bertugas menatalayani segala ciptaan, bukan melayani dirinya sendiri; manusia hadir di muka bumi untuk kehidupan semua, bukan kehidupannya sendiri. Manusia harus menyadari, bahwa kehadirannya di bumi ini bukan sekedar untuk kesenangannya sendiri, tetapi untuk hidup berkecukupan bagi segala mahluk. Dan oleh karena itu, harus diingat, pertimbangan utama dalam menjalani kehidupan di bumi ini adalah pemahaman tentang bumi, manusia, dan waktu. Manusia harus menyadarinya, kalau ingin keberadaannya langgeng.

Manusia harus memelihara bumi, dengan segala penghuninya, manusia, hewan, tumbuhan, mikro organisme, tanah, udara, air, sungai, danau, laut dan ciptaan lainnya. Manusia tidak bisa hidup tanpa kehadiran mahluk lainnya itu; sebaliknya, mahluk lain itu bisa hidup tanpa kehadiran manusia; bahkan dengan kehidupan yang lebih baik. Manusia harus memelihara bumi untuk kehidupan bersama segala mahluk dan untuk keutuhan bumi itu sendiri; dan oleh karena itu, pengembangan ilmu, teknologi dan seni, serta penerapannya, harus dalam rangka  kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan mikro organisme, serta keutuhan bumi.

Bumi mampu menghidupi segala mahluk, tetapi tidak akan mampu melayani keserakahan segelintir kaum tamak. Hidup berkecukupan di bumi ini akan terjamin dalam kehidupan bersama segala mahluk, tetapi ketamakan segelintir manusia menjadi ancaman bagi segalanya. Ketamakan manusia menjadi ancaman bagi Simiskin dan Sitamak; dan juga menjadi ancaman bagi kelestarian bumi. Sitamak merusak bumi untuk menambah kekayaannya, tetapi Simiskin yang kelaparan, ikut menghancurkan lingkungan demi kelangsungan hidup; mereka menebang hutan; ternaknya menggunduli padang rumput; menggunakan lahan marginal secara berlebihan; dan ketika jumlah mereka menjadi terlalu banyak, mereka berjejal di tanah sempit.

BACA  Penuhi Persyaratan Ormas Ketum dan Sekjen MUKI Datangi Kantor Kemendagri

Bumi sedang mengalami krisis multidimensi, antara lain: krisis lingkungan, krisis energi, dan terutama krisis pola pikir dan perilaku manusia itu sendiri. Krisis multidimensi ini terutama diakibatkan, ledakan penduduk bumi dan ledakan kemakmuran segelintir manusia. Ledakan penduduk bumi membuat manusia penghuni bumi terlalu banyak; dan penduduk yang banyak ini menghabiskan terlalu banyak sumberdaya bumi; membuang terlalu banyak limbah.

Ledakan kemakmuran mendorong industri memproduksi terlalu banyak barang dan jasa; dan proses produksi ini mengekspolitasi bumi secara berlebihan, melebihi kemampuan bumi regenerasi; dan juga membuat polusi udara, air dan tanah. Berbagai ancaman terhadap bumi muncul bersamaan; ancaman lokal dan regional, seperti desertifikasi, penggundulan hutan, limbah beracun, dan pengasaman; secara global muncul ancaman perubahan iklim, menipisnya lapisan ozon, dan banyaknya spesies yang punah. Ancaman bergerak cepat, lebih cepat  dari kendali manusia; dan ancaman paling mengerikan terhadap kehidupan di bumi ini, barangkali adalah ancaman perang nuklir, yang sampai sekarang, manusia baru mampu menundanya; mahluk berpikir yang bernama manusia itu belum mampu melenyapkan senjata nuklir yang dia buat sendiri.

 Pada akhirnya kita sampai pada kesimpulan, bahwa ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup segala mahluk di bumi, termasuk manusia, datang dari pikiran manusia sendiri; dan oleh karena itu, agar manusia mau dan mampu mengatasi ancaman global ini, manusia harus mau dan mampu mengubah pola pikir dan perilakunya. Salah satu penyebab dari bencana global ini adalah  ledakan penduduk bumi;  membuat terlalu banyak manusia hidup di satu bumi yang terbatas. Ledakan penduduk ini mengakibatkan bumi yang terbatas daya dukungnya ini, tidak mampu menghidupi manusia dan mahluk hidup lainnya.

Bagaimanapun kemajuan ilmu dan teknologi, daya dukung bumi tetap ada batasnya; dan melihat luas dan besarnya kerusakan bumi, saya sampai pada  kesimpulan, penduduk bumi sudah terlalu banyak; dan akibatnya bumi rusak, spesies hewan dan tumbuhan banyak yang punah; air sungai, danau dan laut kena polusi; demikian pula dengan udara; hutan banyak yang gundul dan bahkan sebagian berubah menjadi gurun pasir; terjadi pemanasan global; dan di beberapa tempat terjadi penipisan lapisan ozon.  Bumi yang hanya satu ini sedang krisis; dan hanya akan bisa dipertahankan kelestariannya, kalau jumlah penduduk bumi sekarang ini hanya bertumbuh menjadi sekitar 9 miliar, dan setelah itu turun menjadi sekitar 6 miliar. Penduduk bumi yang pada tahun 2019 berjumlah 7,7 miliar, sudah tidak terlayani oleh bumi yang rusak ini.

BACA  Pakar Kesehatan ungkapkan PSBB Layak Dibuka Secara Bertahap Mei Mendatang

Manusia harus bisa menahan diri: menghentikan ketamakannya; mengurangi kemakmurannya; menghentikan ledakan penduduk bumi. Semua ini harus kita lakukan, hingga suatu hari nanti, manusia bisa menemukan Bumi Kedua, Bumi Ketiga, Bumi Keempat, dan seterusnya, yang saya harap dapat ditemukan dan dihuni manusia sebelum Abad ke-21 ini berakhir.  Manusia sebagai satu-satunya mahluk berpikir di bumi ini harus kerja keras, kreatif dan adil, menatalayani bumi agar tetap baik sebagaimana sebelumnya.

Di banyak negara, kemiskinan dibuat semakin parah akibat distribusi lahan dan modal yang tidak merata; dan ledakan penduduk menurunkan kemampuan masyarakat memperbaiki kehidupannya. Penggunaan lahan subur untuk tanaman komersial, membuat kaum miskin terdesak ke lahan marginal; dan akibatnya terjadi longsor dan erosi, yang berakhir pada lahan kritis;  sikaya merusak bumi didorong oleh ketamakannya, dan simiskin terpaksa ikut merusak lingkungan untuk menyambung hidupnya. Dari sekarang bisa diprediksi, kalau ledakan penduduk bumi tidak dihentikan, lingkungan hidup akan semakin rusak dan bumi tidak terselamatkan; dan semua ini menjadi ancaman terhadap kehidupan segala mahluk, termasuk manusia.

Tersedia sedikit waktu lagi untuk perbaikan lingkungan dan penyelamatan bumi; dan oleh karena itu bangsa-bangsa di lingkungan PBB, perlu segera bertindak bersama-sama menyelamatkan bumi. Masyarakat manusia hidup di sekitar 200 negara;  dengan kemajuan dan kekayaan berbeda; dengan jumlah penduduk sangat berbeda; dengan luas wilayah yang sangat berbeda; dengan kepentingan nasional berbeda; tetapi hidup di bumi yang sama.

Dan oleh karena itu, manusia perlu membuka dialog yang tulus, intens dan produktif; menyepakati agenda bersama umat manusia, menerapkan polapikir dan perilaku kehidupan berkecukupan bagi segala mahluk, di bumi lestari. Tidak ada satu bangsa pun yang mampu mengatasi krisis bumi sendirian; dan karena krisis ini krisis bersama, kita harus mengatasinya bersama-sama; melestarikan lingkungan dan menyelamatkan bumi adalah tanggungjawab bersama umat manusia. Manusia tidak boleh menyerah kalah terhadap kondisi buruk ini; manusia harus tetap mampu berpikir, kerja keras dan kreatif.

BACA  Pdt Dr Anton Tarigan Jumat Agung dan Paskah Bicara Pengampunan Kasih serta Kesetiaan

Bangsa-bangsa di muka bumi, sebagai masyarakat manusia penghuni, pengelola dan pemelihara bumi, perlu dan harus menjalankan gotongroyong global menanggulangi krisis bumi. Krisis bumi ini harus dijadikan tantangan bersama masyarakat global, tanpa membedakan bangsa dan negara, ras dan suku, agama dan kepercayaan; dan tujuannya adalah lingkungan kembali utuh dan bumi lestari.

Gotongroyong global ini akan mengurangi kompetisi dan konflik global; akan mendekatkan berbagai kepentingan nasional yang tadinya sangat berjauhan; akan mengurangi ketimpangan global; akan mengurangi kemiskinan dan pengangguran; akan menghapus eksploitasi berlebihan terhadap bumi, dan seterusnya; dan kita bisa berharap kerusakan lingkungan segera diperbaiki dan bumi terselamatkan.

Dan untuk mewujudkan kondisi di atas, perlu disusun suatu strategi bersama, yang akan dijalankan bersama seluruh bangsa-bangsa di muka bumi; dan strategi itu adalah berbagai langkah-langkah besar yang perlu dilakukan oleh bangsa-bangsa di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB); bantu-membantu dan tolong menolong untuk mewujudkan kehidupan berkecukupan bagi segala mahluk, di bumi lestari.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *