Putra Nababan: SKB 3 Menteri Meneguhkan Komitmen Kebangsaan yang di bangun pendiri bangsa

T3LUSUR
Bagikan:

Jakarta, t3lusur-Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Putra Nababan menilai kehadiran SKB 3 Menteri tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut Bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan berguna untuk meneguhkan komitmen kebangsaan yang sudah dibangun pendiri bangsa ini.

“Kalau kita lihat dari SKB 3 Menteri tidak lain untuk mengembalikan makna toleransi yang sempat bergeser ke arah intoleransi,” ujar Putra dalam Webinar Pewarna Indonesia dengan topik “SKB 3 Menteri: Memupuk Asa Toleransi di Sekolah, Jumat (12 Februari 2021).

Dalam webinar yang bertepat hari raya Imlek ini juga menghadirkan beberapa narasumber lainnya, seperti Dr Sutanto Sekjen PAUD pendidikan dasar dan menengah kemendikbud, Deputi II KSP Abednego Tarigan, Ketua umum PPHKI Fedrik Pinakunary, Ketum MUKI Djasarmen Purba, Ketua PIKI Dating Palembangan dan orang tua Jeni Hia akni Elianu hia.

Selanjutnya Putra mendorong semua pihak agar kasus yang menimpa seorang siswa perempuan yang menolak penggunaan busana dari agama tertentu kepada siswa beragama lain tidak terulang lagi. “Dari sini bisa dilihat bahwa proses pendidikan di negeri ini belum optimal membentuk warga negara yang dapat mewujudkan suatu keadaban bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta belum mampu mengkreasi manusia Indonesia seutuhnya,” imbuhnya.

Putra juga meminta agar semua pemangku kepentingan di dunia pendidikan meneladani pendiri bangsa yang tidak pernah mengedepankan mayoritas atau dari sisi jumlah dalam menyatukan bangsa. “Ini adalah warisan kita, modalitas yang kita miliki saat ini. Hal-hal yang asing dari luar jangan dibawa-bawa. Intoleran, tidak gotong royong, individualis, itu hal-hal asing,” tegasnya.

Putra bangga bahwa komitmen toleransi ini justru diajarkan oleh Jeni Cahyani, siswi kelas X SMK Negeri 2 Padang, Sumatera Barat yang menolak menggunakan jilbab karena bukan beragama Islam. “Saya bangga sekali punya generasi muda seperti dia dan itu dilindungi undang-undang. Dia mengajarkan kita semua untuk berani menyampaikan apa yang menjadi kesepakatan para founding fathers negara ini,” tutur Putra.

BACA  Bersama tiga Lembaga PEWARNA Bagikan 200 Nasi Bungkus untuk Buka Puasa

Menurut Putra, membangun nilai-nilai kebangsaan dan sikap toleransi melalui pendidikan harus terus diperjuangkan. Apalagi belakangan ini, tambahnya, tindakan intoleransi dan bahkan menjurus kepada eksterimisme cukup marak terjadi di negeri ini. “Benih intoleransi muncul karena berbagai faktor, salah satunya tingkat pemahaman nilai kebangsaan yang sempit maupun penanaman nilai agama yang ekslusif di sekolah,” paparnya.

Putra pun mendorong agar lebih banyak lagi siswa yang menyampaikan pendapat apabila gurunya tidak sadar atau pura-pura tidak sadar atau belum pernah baca undang-undang, tentang betapa toleransi sangat penting diwujudnyatakan. “Nggak apa-apa, guru diajari murid juga boleh. Nggak harus selalu feodal bahwa guru mengajari murid. Di era sekarang, murid juga bisa memberi feedback kepada guru,” katanya. (Rik)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *