Pdt Yohanis Henukh Dukung Tindakan Pangdam Jaya Tertibkan Baliho Bergambar Habib Riziq

Terkini
Bagikan:

Jakarta, t3lusur.com-Penurunan baliho bergambar Habib Riziq oleh TNI menimbulkan pro kontra, mereka yang kontra seperti Fadli Zoon anggota DPR RI dari Gerindra dan beberapa simpatisan Habib Riziq beralasan bahwa tugas menertibkan baliho itu cukup satpol PP bukan TNI. Namun demikian banyak juga yang setuju dan mendukung tindakan TNI menurunkan baliho, buktinya dukungan itu dengan memberikan karangan bunga di markas Pangdam Jaya kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Yohanis Henukh praktisi pendidikan dan tokoh Indonesia Timur ini melihat tentang kontrovesi serta tindakan Habib sekembalinya ke Indonesia. Yohanis mengatakan bahwa siapapun boleh tinggal di Indonesia termasuk orang Arab, Cina maupun orang-orang dari berbagai negara sepanjang mereka tetap mengakui dan tunduk pada Pancasila dan UU negara Indonesia, tegasnya mantab

Memang belakangan ini kegaduhan itu sangat terasa, setelah kepulangan  Habib Riziq dari Arab. Ditandai dengan penjemputan para pengikutnya di Bandara Soeta yang menyebabkan kemacetan panjang di sekitar bandara, padahal bandara merupakan kawasan vital, kemudian berlanjut di Petamburan saat menikahkan putri tercinta membuat kerumunan saat negara sedang konsen menanggulangi covid19. Sekalipun akibat kerumunan itu pihak Pemda sudah menjatuhkan dengan 50 juta rupiah.

Belum lagi pidato-pidatonya yang terkesan mengandung ujaran kebencian, sehingga membuat toleransi rasanya ternodai. Kondisi itulah yang membuat TNI di bawah pangdam Jaya Mayjend Dudung Abdulrachman memerintahkan penertiban spanduk atau baliho bergambar Habib Riziq.

Menanggapi sikap TNI menertibkan baliho bergambar Habib Riziq, Yohanis Henukh ketua STT Pokok Anggur ketika di temui Selasa 24/11/20 di kawasan PGC Cawang Jakarta Timur, sangat setuju dan mendukung sikap TNI, Yohanis berpendapat senada dengan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie yang juga mendukung peran TNI menertibkan baliho tersebut.

BACA  UK Petra Luncurkan dan Lelang Buku “Mendadak Daring”

Kenapa, tugas itu memang satpol PP tetapi kenyataannya gubernurnya saja yang memiliki wewenang memerintahkan satpot PP malah sowan saat Habib Riziq baru sampai Jakarta.

Lalu apakah ini berarti pemerintah lambam bertindak mengingat sudah sekian lama baliho itu terpasang di berbagai sudut di Jakarta. Yohanis dengan bijak menegaskan ini bukan masalah lambam, tetapi semua perlu di ambil langkah yang tepat dan cermat agar dalam mengambil tindakan penertiban tersebut sesuai aturan mainnya, tandasnya.

Kemudian berbicara intoleransi yang masiv berkembang di tengah masyarakat apakah ini berarti dunia pendidikan turut andil dalam menyuburkan tindakan intoleransi, lagi-lagi Yohanis ayah dua putri ini menampiknya. Kalaupun saat ini ada anak-anak muda yang terpapar intoleran serta ikut-ikutan demo seperti demo UU Cipta kerja, diakui semata disebabkan media sososial yang begitu gencar. Sehingga siapapun bisa mengaksesnya tanpa validasi lebih dulu tetapi diterima begitu saja.

Untuk itu sebagai pelaku pendidikan Yohanis  memberikan saran kepada menteri  komunikasi dan informasi agar tetap mengawasi perkembangan dunia medsos, sehingga tidak sembarang berita bisa masuk terutama berita-berita hoax dan akhirnya bisa merusak cara berpikir orang.

Sebagai orang Indonesia timur Yohanis tetap Indonesia dengan dasar Pancasila ini sudah final, keberagaman dan kebinekaan itu perlu terus dirawat. Nah kalau memang ada orang yang mau merubah Pancasila silahkan keluar dari negera ini. Karena NKRI ini sudah final dengan  Pancasila dan UUD 45-nya.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *