Jika Ada Partai Kristen Eksis Atau Tidak Tergantung Ideologi dan Plaform yang Jelas

T3LUSUR
Bagikan:

JAKARTA, t3lusur.com – Pewarna kembali menggelar diskusi daring, Selasa (2/6) Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia) kembali menggelar Diskusi Online dengan tema, “Peluang Partai Kristen dalam Perspektif Akademisi Perguruan Tinggi”. Ricardo Marbun, kembali memandu diskusi ini dengan menampilkan para narasumber memaparkan pandangannya soal peluang Parpol Kristen dalam Pemilu 2024 nanti.

Para narasmuber itu antaranya DR. Phil Fitzerald Kennedy Sitorus, S.Sos., S.Fil (Dosen Filsafat UPH), DR. Denny Tewu (Wakil Rektor UKI), DR. Ferry Daud Liando (Wakil Sekjen Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) RI), Sally Azaria, S.Sos, M.PPO (Dosen UK Petra), DR. Maklon Kila (Pembantu Rektor 1 Universitas Kristen Wira Wacana Sumba), Rikson Karundeng, M.Teol (Pengajar/Dosen UKIT), I.S. Kijne Mansawan, SH (Dosen STIH & Ketum GEBRAK Papua Barat) dan DR. Ashiong Munte, M.Pd (Litbang Pewarna Indonesia).

DR. Kennedy Sitorus kesempatan pertama mengajak peserta diskusi untuk melihat dari aspek analisa teoritis dan praktis. Menurutnya, dari aspek teoritis dengan melihat fungsi Parpol untuk menyuarakan kepentingan konstituennya, tidak ada masalah. Tapi pada level praktis, efektifitas Parpol Kristen untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat Kristen diragukan.
“Seefektif apa parpol Kristen dalam memperjuangkan aspirasi di perpolitikan nasional?

Kalau melihat sejarah, pada pemilu sebelumnya sudah ada dan kita tahu bagaimana kemudian hasil dari usaha mulia itu. Dari aspek teoritis, baik, kita harap ada dan itu wajar sekali. Tapi, dari sisi pengalaman, kita harus evaluasi agar tidak seperti keledai yang jatuh terperosok pada lubang yang sama. Berdasarkan pengamatan saya, meragukan Parpol Kristen dapat memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat Kristen”, ungkapnya.

Dosen Filsafat UPH ini pun menyarankan umat Kristen memperkuat parta-partai nasionalis yang menurutnya lebih akan berdampak ketimbang lewat partai Kristen yang hanya menjadi partai gurem saja.

“Memperjuangkan kepentingan umat Kristen tidak harus dari Parpol Kristen, tapi dari partai-partai nasionalis besar lebih berdampak. Akan sangat tidak efektif membentuk Parpol Kristen, lebih baik memperkuat partai-partai besar nasionalis. Publik tidak akan tertarik dengan Parpol Kristen, karena akan menjadi partai gurem saja,” terang Kennedy Sitorus.

“Sebagai monoritas kita mending memperkuat partai-partai nasionalis. Akan lebih diterima partai nasionalis membela kepentingan Kristen daripada Parpol Kristen sendiri. Apalagi suasana sosiologis sekarang, masyarakat kurang menerima Parpol yang berbasis keagamaan,” terang Kenedy Sitorus lagi.

Tak jauh beda dengan Kennedy Sitorus, narasumber kedua Sally Azaria, S.Sos, M.PPO mempertanyakan nilai jual dari Parpol Kristen sehingga masyarakat bisa memilih. Dengan keberagaman dari dalam Kristen sendiri yang tidak bisa ada di satu partai, Sally meragukan kehadiran Parpol Kristen.

BACA  PN Jakput menangkan rektor UNISMA dan Presiden Jokowi dari Gugatan PAMi

“Perlu dihitung seberapa kuat kalau mau buat Partai Kristen. Eranya sudah lewat kalau mau buat Partai Kristen. Sekarang sudah era nasionalis bukan primordialis. Era keterbukaan seperti ini, orang tidak lagi ekslusif. Sekarang lebih ke arah nasionalis, kemanusiaan,” tutur Dosen UK Petra ini.

“Mungkinkah yang mayoritas memilih kita? Butuh perhitungan yang matang kalau mau mendirikan Parpol Kristen,” tuturnya lagi.
Narasumber ketiga, I.S. Kijne Mansawan, SH (Dosen STIH & Ketum GEBRAK Papua Barat) menekankan soal tampil beda dengan nilai tawar yang lebih dari Parpol Kristen sebelumnya.

“Belajar dari sejarah, kita tahu ada PDS. Ada perwakilan 13 di DPR RI. Tapi, kalau kita perhatikan tidak ada yang menonjol. Akhirnya masyarakat menilai tidak ada bedanya PDS dengan partai lain. Saya hanya ingin beri saran, kalau ada niat terjun dan berpolitik praktis, berangkat dari evaluasi dari partai sebelumnya. Kita harus tampil beda dan beri nilai tawar.

“Saran saya, jangan nama berbau Kristen, buat orang-orang yang sudah terlanjur di parpol besar menarik mereka dan membesarkan parpol Kristen ini. Contoh di Papua Barat, dominasi Kristen masih kuat. Tokoh atau pendeta masih sangat didengar,” ujar Kijne Mansawan.

Sementara Rikson Karundeng, M.Teol (Pengajar/Dosen UKIT) mengajak semua untuk belajar dari sejarah perjalanan Parpol Kristen dan tokoh-tokoh Kristen yang punya posisi tawar dalam panggung politik. Dengan semangat historis teologis kehadiran Kristen di panggung politik Indonesia yang sangat berperan, maka menurutnya kehadiran Parpol Kristen bisa direalisasikan.

“Bisa, nggak? tentu bisa, karena UU memberi peluang untuk itu. Semua punya hak mendirikan parpol. Kita pernah menyimak Sukarno, bahwa mendirikan paprpol Kristen dan daerah itu tidak keliru. Secara historis, politisi Kristen bukan baru. Hal penting lain yang bisa kita pelajari dari sejarah, orang Kristen punya pengaruh, di mana tokoh-tokoh Kristen punya posisi tawar dalam panggung politik,” jelasnya.

“Sekarang, realistis kah? Bisa dapat kursi di parlemen? Bisa! Hari ini fakta ada masyarakat yang menginginkan parpol Kristen. Ini juga menjadi isu di kampus-kampus teologi,” jelasnya lagi.

BACA  Pewarna Indonesia Bersama GMC Melakukan Penyemprotan Disinfektan Di Kampus dan Rumah Ibadah

Sementara itu, narasumber kelima, DR. Maklon Kila (Pembantu Rektor 1 Universitas Kristen Wira Wacana Sumba) lebih fokus pada strategi marketing Parpol Kristen. Sesuai bidangnya ia menguraikan soal strategi secara fundamental, kekinian, konstituen dan perubahan selera pemilih. Menurutnya, perlu kajian soal gagal dan tidaknya tokoh-tokoh Kristen di Parpol Nasionalis yang berjuang untuk kepentingan umat Kristen, sehingga hasilnya menjadi landasan berdirinya Parpol Kristen.

“Sejarah kita sudah tahu ada parpol-parpol Kristen, tapi kegagalan parpol Kristen mempertahankan diri di perpolitikan nasional. Yang jadi pertanyaan, kita punya tokoh Kristen yg sudah banyak berkecimpung di parpol nasionalis, apakah tokoh-tokoh itu memang gagal memperjuangkan aspirasi Kristen atau sebaliknya mereka banyak berjuang sehingga tak perlu lagi Parpol Kristen? Oke, kalau gagal, peluang mendirikan parpol Kristen jadi ada,” tuturnya.

Terkait konstituen, Maklon menyatakan besarnya persaingan bila Parpol Kristen kembali hadir dalam perpolitikan nasional. Menurutnya, dari perjalanan hasil pemilu ada perubahan selera pemilih/masyarakat dari partai berbasis agama ke nasionalis sehingga peluang parpol Kristen semakin berat.

“Dalam ranah besarnya tingkat persaingannya bagaimana? Ternyata kalau kita lihat ketat sekali. Kita bisa lihat dari pemilu sebelumnya. Ada perubahan selera pemilih yang beralih dari parpol basis agama ke parpol nasional. tingkat beralih itu tinggi. Lihat juga seberapa besar segmen pasar kita. Basis Kristen banyak partai nasionalis! Oke, kalau kita semua bersatu, kita bias memenuhi PT, tapi kelanjutannya bagaimana? Peluang pasarnya terlalu kecil,” jelasnya.

Diskusi menjadi semakin menarik tatkala DR. Denny Tewu (Wakil Rektor UKI) memaparkan pandangannya. Selain memaparkan perjalanan sejarah pengaruh Parpol Kristen dalam perjuangan bangsa, sebagai mantan pimpinan Partai Politik Kristen (PDS) yang pernah duduk di Senayan sebagai anggota DPR RI, Denny menyebut kehadiran Parpol Kristen khususnya PDS sangat memberi pengaruh dalam perpolitikan Indonesia, khususnya memperjuangkan aspirasi umat Kristiani.

Beberapa peninggalan PDS untuk memperjuangkan kepentingan nasional khususnya umat Kristiani seperti kenaikan anggaran untuk Bimas Krsiten, sumbangan zakat yang hanya untuk umat muslim yang bisa mengumpulkan dana hingga ratusan triliun, maka melalui PP No. 60 tahun 2010 sumbangan agama lainnya diakui pemerintah sebagai pengurang pajak dalam laporan keuangan individu maupun perusahaan, terbentuknya UU penghapusan diskriminasi ras dan etnis, UU rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) 205-2025 dibeberkannya.

BACA  Michael Wattimena Terpilih Jabat Ketua Umum IMDI, AHY: Demokrat Harus Cetak Kader Militan

Melihat peran ini, Denny Tewu menyatakan bahwa peluang Parpol Kristen tampil lagi di tahun 2024 terbuka walaupun tidak mudah karena tergantung UU Pemilu 2024 yang baru akan dikeluarkan tahun 2022. Selain itu menegacu pada UU Pemilu sebelumnya, sudah harus mempersiapkan organisasi Parpol dari pusat hingga ke desa/kelurahan beserta anggota parpol minimal 1000 orang per kabupaten kota yang berpenduduk hingga 1 juta orang.

Berdasarkan pengalamannya, Denny Tewu menyampaikan tiga hal bila Parpol Kristen hadir dalam perpolitikan nasional nantinya.
“Pertama, perlu figur yang bisa diterima dan dipercaya pihak, baik masyarakat Kristen pada umumnya maupun penguasa atau sebaliknya dipercaya penguasa dan diterima masyarakat Kristen pada umumnya. Kedua, Pendanaan datang karena kepercayaan pada pemimpin yang siap berkorban juga tentunya. Ketiga, Untuk administrasi tidak sulit dengan teknologi dan dukungan jaringan Kristen yang ada harusnya cukup mumpuni,” ungkapnya.

Narasumber ketujuh, DR. Ferry Daud Liando (Wakil Sekjen Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) RI) mengangkat soal Ideologi dan platform Parpol. Menurutnya Konsistensi identitas menjadi kunci kesuksesan Parpol Kristen.

Eksis atau tidak, tergantung ideologinya. Apa platform yang membentuk cita-cita parpol itu. Akhirnya, policynya seperti apa, ini akan menentukan. Banyak parpol gagal karena ideolgi tidak memiliki visi yg jelas, tidak merangsang publik. Bandingkan dengan Eropa/Australia ideologi beda-beda. Ada kebutuhan, bukan keinginan figur. Bukan semata-mata kepentingan elite, tapi kebutuhan masyarakat. Ideologi harus konsisten. How to goal, jangan hanya untuk mengakomodasi pengangguran politik,” pungkasnya.

“Ideologi butuh konsistensi. Ideologi penting! Jangan sampai ada image untuk menampung pengangguran-pengangguran politik. Dipecat dari parpol nasionalis, kemudian masuk atau bergabung ke Parpol Kristen. Kon sistensi akan identitas harus di jaga bila Parpol Kristen hadir,” pungkasnya lagi.

Narasumber terakhir, DR. Ashiong Munte, M.Pd (Litbang Pewarna Indonesia) menegaskan soal perlunya perjuangan untuk mewujudkan sebuah peluang walaupun kecil.

“Segala sesuatu harus di perjuangkan! Peluang itu, sekalipun ada pro dan kontra harus diperjuangkan. Baik sebelum pemilu, saat pemilu dan pasca pemilu,” serunya. Karena bicara partai mungkin tidak masuk dalam tataran teologisnya.

Diskusi sepanjang dua jaman ini diwarnai tanya jawab khususnya kepada kedelapan Pewarna Indonesia yang berlangsung dua jam lebih ini. Pada bagian akhi, setiap narasumber diberi kesempatan oleh moderator untuk menyampaikan pernyataan penutupnya. (*)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *