UNTUK MENGENANG SRIKANDI MISI UDARA ITU

T3LUSUR
Bagikan:

Jakarta, t3lusur.com-Berita jatuhnya pesawat pembawa kargo di Danau Sentani, Papua, sontak mengingatkan saya pada perjalanan misi untuk meluncurkan Alkitab berbahasa Yali di Lembah Angguruk beberapa waktu lalu. Setiap hari pilot-pilot terlatih yang kebanyakan berasal dari Amerika Serikat menerbangkan burung-burung besi mungil untuk membawa penumpang dan kebutuhan logistik dalam jumlah terbatas. Sembari duduk di sebelah pilot, semua percakapan yang dilakukan dalam bahasa Inggris terdengar jelas. Satu per satu instrumen yang digunakan diperiksa dengan teliti. Begitu pula, perubahan cuaca dari menit ke menit dipantau dengan cermat. Di ketinggian menuju lapangan-lapangan perintis yang terpencil, sekecil apa pun kelalaian dapat berarti maut.

Terus terang, setiap kali terbang dalam kondisi demikian muncul apreasiasi terhadap misi MAF (Mission Avaition Fellowship). Walau tetap berbayar, layanan MAF tidak bertujuan komersial. Mereka meninggalkan zona nyaman di negeri masing-masing untuk menghadirkan layanan transportasi yang menghubungkan kampung-kampung terpencil di Papua. Saya masih ingat, saat itu di sebelah saya duduk seorang pilot dari Australia yang sudah menghabiskan tahun-tahunnya menerbangkan burung besi di Afrika, lagi-lagi dengan motivasi yang sama: Bagaimana Kabar Baik tentang kasih Kristus itu bisa sampai ke ujung bumi!

Joyce Lin, pilot yang ditemukan tewas di kedalaman 13 meter, hanya dikenal di kalangan terbatas. Dini hari 12 Mei 2020 ia menerbangkan pesawat Kodiak berbadan kecil itu sendirian untuk mengantar kebutuhan logistik daerah pegunungan, termasuk paket-paket rapid test Covid 19. Minggu sebelumnya, ia sempat menorehkan refleksi dalam surelnya: “Dalam situasi yang tidak normal inilah, sungguh terasa makna kehadiranku di Papua ini. Ketika transportasi sungguh dibatasi, aku melihat betapa berartinya setiap penerbangan yang dilakukan MAF menghubungkan daerah-daerah yang tak terjangkau. Betapa bersyukurnya penduduk setempat setiap kali pesawat mendarat di kampung mereka.”

BACA  Menyelamatkan Pengemudi Kenderaan Bermotor Terhindar Dari Kecelakaan, Ini Yang Dilakukan Personil Polres Madina

Warga Amerika keturunan Taiwan ini memulai karirnya sebagai pakar sistem sekuriti di dunia maya (cybersecurity). Gelar sarjana dan master di bidang IT diraihnya dari Massachussets Institute of Technology (MIT), salah satu institusi akademis paling bergengsi di dunia. Sementara studi di MIT, ia memperoleh lisensi pilot pribadi. Karir yang menjanjikan ditinggalkannya setelah hatinya tergerak oleh misi untuk menghadirkan Kabar Baik ke suku-suku bangsa yang tersebar di daerah pelosok. Ia lalu menempuh studi teologi di Gordon-Cornwell Theological Seminary. Saat itulah ia tertarik pada misi layanan penerbangan melalui MAF, dan mendapat kesempatan untuk menjajaginya ke Papua.

Belum lama berselang, Joyce mengevakuasi seorang wanita yang sakit parah dari Wamena ke Sentani. Evakuasi ini meninggalkan kesan mendalam yang mengobarkan komitmennya untuk memberi layanan yang sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat. Air mata yang menetes di mata perempuan Papua itu baginya bukan hanya tangis haru tetapi ungkapan pengharapan akan pertolongan Tuhan. Inilah evakuasi medis pertama yang dilakukannya sejak penerbangan dihentikan akibat pandemi Covid 19.
Bagi pilot cantik nan cerdas ini, pekerjaan menerbangkan burung-burung besi mini bukanlah sekadar profesi. Dalam keyakinannya, layanan yang diberikan adalah bagian dari perpanjangan kasih Tuhan, dan kehadiran Tuhan inilah yang sesungguhnya membawa harapan bagi orang Papua.

Joyce telah pergi menghadap Pemilik Hidupnya, tetapi kesaksiannya tetap hidup dan menginspirasi umat Tuhan melewati hari-hari yang dibayangi ancaman dan ketidakpastian ini: “Aku sangat bersyukur mengenal Tuhan secara pribadi. Ia tak pernah meninggalkanku dalam titik-titik nadir hidupku. Berulang kali Ia mengubah ratapanku menjadi tarian sukacita (Mzm 30.12).”

Visi yang dihayatinya mengingatkan kita tentang etos yang sepantasnya mencirikan hidup dan karya umat percaya: “Walaupun aku selalu tertarik menerbangkan pesawat dan bekerja dengan komputer, lebih dari semua itu, aku sangat tertarik untuk membagikan kasih Kristus dengan turut memberi dukungan bagi misi yang mengubah hidup orang-orang yang nyaris kehilangan harapan, agar ratapan mereka berubah menjadi tarian sukacita.”

BACA  PGI Wilayah DKI Jakarta Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru Merupakan Ajang Oikumene

(Pdt. Anwar Tjen, diadaptasi dari berbagai sumber)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *