Elisabet Tjianti Berbagi Makanan Masyakarat Kecil Dengan Memanfaatkan Bumbu Warisan Ny. Rame

Terkini
Bagikan:

Bandung, t3lusur.com-Dunia bisnis bagi wanita yang satu ini sudah lama digelutinya, sekalipun pernah mengalami guncangan bisnisnya yang besar itu dan jatuh. Berangkat dari posisi itulah kemudian bagi pemilik nama Elisabet Tjianti ini mencoba kembali bangkit untuk merintis kembali usaha sekalipun mulai dari kecil.

“Saat saya sedang berpikir tentang usaha baru apa, tiba-tiba teringat kembali sebuah resep bumbu yang merupakan warisan dari ibu ”, ujar perempuan yang pernah berusaha di bidang pertambangan ini.

Membuat Bumbu Serba Guna dengan nama Warisan Ny. Rame juga merupakan cara Elisabet mengenang Masakan Alm Ibu yang selalu disiapkan untuk Keluarga saat Alm. Masih Hidup. Resep warisan Ny. Rame inilah yang membantu saya dan adik-adik bisa memperkenalkan makanan kecil kami kepada Cucu Alm. Ny. Rame. “Kelebihan dari warisan bumbu nyonya Rame, bisa membantu memasak lebih Mudah Cepat, Enak dan Sehat”,
Sehat karena memakai Rempah Alami dan tanpa bahan Pengawet, ujarnya yakin karena Elisabet Tjianti seorang Lulusan Sarjana Teknologi Pangan.

Tentang kelebihan resep warisan ibunya ini, sudah dicoba beberapa teman dan para sahabatnya. Mereka mengatakan bumbu warisan nyonya rame ini memang bagus, masakan jadi enak dan cepat.

“Sekalipun sudah punya resep warisan nyoya rame yang sudah dilegalkan di departemen kesehatan tetapi baru sebatas jual Bumbu saja belum berpikir untuk menjual makanan dengan memakai resep tersebut ”.

Namun seiring perjalanan waktu ada hikmat yang mengatakan, menjadikan Bumbu warisan nyonya Rame ini sebagai “Sahabatnya Bunda” yang dapat membantu memudahkan Bunda membuat makanan. Karena selama ini makanan dari tangan bunda itulah yang merupakan Makanan terbaik untuk keluarga.

Bicara memasak kadang-kadang orang malas masak, karena harus membuat bumbu dan membutuhkan waktu yang lama, tetapi dengan bumbu warisan Nyonya Rame, bunda dapat memasak dengam lebih cepat dan enak.
Sehingga Bunda jadi senang memasak dan mempersiapkan Makanan terbaik yang bisa dinikmati semua keluarga.

BACA  Pelatihan Jurnalistik dan Kuliah Umum Tindaklanjut MoU Pewarna dan STT IKAT

“Saya berpikir dan ingat kata-kata ibu, bahwa warisan kasih itu akan selalu dikenang sampai kapanpun”, terangnya serius.

Merenungkan apa yang dikatakan sang ibu, Elisabet teringat akan begitu banyak orang yang membutuhkan makanan. Lalu dari situlah terpikir untuk membantu memberikan makanan bagi sesama, terutama bagi mereka yang kurang beruntung.

Sharing Nasi Kasih, itulah yang terpikir pada saat diingatkan Pelajaran alm. Ibu. sekalipun sedikit protes dalam hati karena kondisi pekerjaan yang seperti ini. kenapa Tuhan pengen dirinya untuk memberi??
“Tetapi sebagai anak Tuhan saya hanya belajar taat saja”, ungkapnya.

Dengan apa yang dimiliki Elisabet memulai memasak dengan bumbu warisan Nyonya Rame dan hasil masakannya dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan.

Langkah kecil yang dilakukan ternyata banyak mendapat respon positif, dan bebeapa Sahabat Elisabet bahkan Sahabat yang tinggal di Luar Negri pun mereka ikut membantu memberikn donasi. Juga banyak dari pembelian bumbu Nyonya Rame yang memberikan uang lebih saat membeli Produk Ny. Rame untuk dibuatkan Nasi Kasih.

Sekalipun diakui memberikan makanan pada kaum yang kurang beruntung ini belum banyak, baru seminggu dua kali membagi-bagikan kepada TunaWisma, tukang parkir, ojol dan tukang sapu maupun lainnya tiap hari Selasa dan Kamis.

Dalam Kondisi Covid 19

Menyikapi kondisi pandemic Covid 19 ini Elisabet pernah mengalami kekuatiran, jangan sampai orang -orang yang habis menyantap nasi Kasih tiba-tiba sakit, takut disalahkan. Karena tidak tahu tangannya Pemberi dan Penerima mana yang kotor atau sebagainya.

Bapak Penjual Kerupuk dipinggir jalan menerima Nasi bumbu Ny. Rame 

“Saya mempertimbangkan untuk menghentikan pembagian makanan ini, namun teman-teman sewaktu saya beritahukan ingin berhenti sejenak. Justru tidak boleh berhenti. Karena justru saat inilah orang-orang di bawah itu harus memiliki tubuh yang kuat untuk melawan penyakit dengan makanan yang bergizi”, ujarnya gamblang.

BACA  PESAN PASTORAL PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA (PGLII) Berkaitan Dengan Pandemi Covid 19

Pelayanannya membantu makanan bagi orang-orang kecil ini, malah akhirnya membuat banyak teman-temannya yang mau mendukung,

Dari apa yang dilakukan ini Elisabet merasa bersyukur ternyata apa yang diberikan kepada orang itu berdampak dan menjadi ajang teman-teman yang lain untuk turut mendukung dalam gerakan membagi makanan kepada orang yang membutuhkan.

Seberapapun donasi yang diberikan teman-teman akan dibelanjakan dan disalurkan kepada mereka.
“Saat situasi seperti ini, banyak masyarakat kecil yang butuh gizi untuk kekebalan tubuh maka menu yang diberikan jenis makanan yang bergizi seperti contoh menu hari ini adalah ayam kuah kari dengan tahu dan Wortel.

Semua yang dilakukan hingga saat ini masih dikerjakan sendiri, karena memang rata-rata yang diberikan baru kisaran di bawah 50 bungkus nasi artinya masih mampu memasak sendirian.

Elisabet berpandangan Terpenting masyarakat harus banyak asupan makanan yang bergizi agar imun tubuhnya kuat sehingga tidak terkena corona.

Daging, telor dan sayur menjadi menu lauk untuk makanan yang dibagi-bagikan sementara Social Distancing membagikan makanan kepada orang-orang di Jalan dengan memakai ojol”, sehingga membantu Ojol mendapatkan Penghasilan. pungkasnya.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *