Pdt. Dr. Anton Tarigan Ketua Umum PGLII Ke depan Banyak Tokoh Muda yang Berpotensi

T3LUSUR
Bagikan:

Jakarta, t3lusur.com-Pemilihan Ketua umum suatu organisasi yang paling ditunggu-tunggu umat,  demikian juga Musyawarah nasional Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang akan menggelar hajatannya tanggal 16-20 Maret 2020 di Medan Sumatera Utara.

Dalam dinamika organisasi yang sudah establish seperti apa yang diungkapkan Pdt. Dr Anton Tarigan, Selasa 2/03/20, di Grand Kebon Sirih beberapa waktu yang lalu, membenarkan bahwa dinamika itu terjadi, sekalipun dalam PGLII sendiri sudah memiliki mekanismenya sendiri yang sudah diatur oleh para tokoh-tokoh senior pendiri daripada PGLII itu sendiri.

Munculnya sosok seperti Anton Tarigan yang sukses menggelar even international dalam World Evangelical Alliance (WEA) , Deddy Madong konsistensinya membesarkan PGLII sudah terbukti,  pendeta Reza Sigarlaki, Hasudungan Manurung termasuk wartawan sinior Robby Repi dan masih banyak lagi tokoh-tokoh muda dari kalangan pengurus wilayah maupun daerah se-Indonesia .

Lalu seperti apa gambaran mereka tentang PGLII yang diklaim merupakan sebuah lembaga aras terbesar di Indonesia ini.

Pendeta Anton Tarigan sosok muda yang baru saja menorehkan sukses besar dalam helatan internasionalnya bagi kaum Injili di dunia, ketika dimintai pandangannya tentang PGLLI tegas bahwa PGLII sebuah lembaga yang establish terbukti sudah memiliki aturan main yang jelas, semua itu tak terlepas dari para pendirinya yang tergolong hebat, seperti Pdt. Chris Marantika, Pdt. Petrus Octavianus dan beberapa tokoh lainya yang rata-rata sudah berkiprah di level internasional.

“Saya melihat PGLII ini sebuah lembaga yang sangat komit terhadap panggilannya, bersekutu dan memberitakan Injil”, terang jebolan salah satu perguruan tinggi Australia ini.

Memang PGLII focus pergerakannya dalam penginjilan dan tetap konsisten hingga kini, terlepas orang suka atau tidak kalau PGLII memang yaitu berjalan dalam visinya dalam ranahnya. Pengurus PGLII sendiri juga sangat terbuka dengan perkembangan jaman itu nampak dalam perekrutan pengurus masa periode Pdt Ronny Mandang yang memasukan kepengurusan anak muda sekitar 30 persen lebih. Bahkan dalam HUT nya yang diadakan di GEKARI tahun lalu, Pdt Ronny tegas bahwa saatnya PGLII mendorong anak muda untuk maju ke depan berkiprah dengan lebih baik.

BACA  Agama untuk Manusia

Tentang kiprah PGLII di mata Anton, para senior PGLII perannya sangat bisa diterima di semua pihak, seperti ketika ada hajatan yang dilakukan PGI Unity Of Celebration disitu Pdt Nus Reimas yang merupakan majelis pertimbangan PGLII yang juga mentan ketua Umum PGLII dua periode menjadi ketua panitia. Belum lagi dalam FUKRI, PGLII sangat aktif dan bisa dikatakan menjadi perekat bagi  tujuh lembaga aras dan KWI.

Berangkat dari kiprah nyata ini, Anton menegaskan bahwa PGLII di rekan sepelayaan di kancah nasional bersama dengan aras-aras lain bisa menempatkan diri. Artinya secara gerakan oikumene PGLII bisa dikatakan mumpuni, namun demikian ketika bicara perannya di tingkat pemerintahan memang masih sangat kurang.

“Ke depan ini tentu menjadi tugas kita bersama untuk membangun hubungan dengan pemerintah, karena bicara organisasi level nasional pengakuan dari sang pemegang otoritas itu sangat penting, sekalipun secara ekssitensi PGLII tak perlu diragukan perannya”, ungkap konsultan salah satu kedutaan ini.

Mengenai kepemimpinan ke depan jelas bahwa setiap zaman ada pemimpinnya, Soekarno hebat pada masanya, tetapi pertanyaanya apakah tepat di era saat ini, itulah yang menjadi pertanyaan besarnya. Artinya masing-masing pemimpin itu ada eranya, demikian pula di PGLII masing-masing dari mereka sudah melakukan kepemimpinan yang hebat pada masanya dan di jalaninya dengan baik sejak Pak Octavianus hingga Pdt Ronny Mandang.

Mereka semua sudah menorehkan prestasinya tentu dengan catatan-catatan lainnya. Nah, kalau bicara ke depan siapa pemimpinnya, PGLII itu sudah punya mekanismenya yang sangat jelas dan baik, AD/ART sudah jelas bahwa tidak menginjinkan pemimpin terlalu tua demikian sebaliknya. Sistemnya sudah ada dan jelas ini juga ciri organisasi yang sudah establish.

BACA  Pertarungan Ketat, Trump dan Joe Bidden Dalam Merebut Pimpinan AS

Pemilihan Ketua umum tergantung apa maunya peserta ada rule of the game inilah yang harus ditaati peserta.

“Begini ya kita harus mengantisipasi, bahwa jaman itu berubah, dan pengennya PGLII itu siap untuk menghadapi dinamika ke depan dalam segala perubahan itu”, tandasnya.

Anton sendiri ketika ditanyakan bagaimana dengan kesiapan kalau seandainya dikehendaki anggota PGLII memimpin ke depan.

“Saya sendiri sepanjang ini tak menyetel hidup saya mau jadi apa termasuk apakah mau jadi ketua umum, termasuk ketika dipilih menjadi ketua panitia WEA yang lalu mau mengelakpun tidak bisa, namun selama tugas itu dipercayakan saya akan kerjakan dengan penu tanggung jawab dan dedikasi”, ucapnya mantab.

Mengenai tugasnya sendiri sebagai ketua komisi luar negeri, Anton merasa bersyukur karena bisa melaksanakan tugas yang diembannya dengan baik, termasuk membangun kembali jaringan luar negeri yang dulu sempat terputus, hal ini dibuktikan atas keeprcayaan mereka menjadikan PGLII tuan rumah gelaran GA WEA yang lalu, dan kehadiran mereka saat WEA berlangsung itu juga konkrit.

Tak kalah menarik selain siapa pemilihan pengurus, tetapi bicara PGLII ke depan apa yang perlu dilakukan,  pertama terang Anton konsolidasi ke dalam, PGLII ini aras nasional terbesar dari sisi anggota tetapi apakah dari pasrtisipasi aktif juga lebih besar. Jangan sampai punya anggota besar tetapi tak punya anggota karena tidak aktif. PGLII harus membuat bagaimana anggota itu bagian dari PGLII itu sendiri dan mendapatkan manfaat tetapi juga anggota itu merasa menjadi anggota sebuah organisasi level nasional yang besar, semacam rasa bangga.

Kedua, yang perlu dibenahi adalah pengelolaan sisi organisasi, PGLII memang sudah awere dengan perubahan tetapi bukan hanya berhenti disitu tetapi harus bergerak cepat berbenah diri untuk menangkap peluang-peluang ke depan ini penting untuk mengubah pola berorganisasi.

BACA  GAMKI DAN KNPI, HARMONIS MEMBANTU PONDOK PESANTREN DAN GEREJA DI PROVINSI BANTEN

Selanjutnya karena PGLII ini sudah level nasional jadi semua harus dikelola dengan jelas dengan ukuran pencapaiannya tahun pertama seperti apa, lalu tahu ke dua juga seperti apa harus ada tolok ukurnya. Ada keterbukaan berani menyatakan sesuatu yang dianggapnya kurang tepat, karena inilah ciri generasi milenial, tutupnya.

 

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *