Dr. Ali Mocthar Ngabalin, MA Takdirlah Yang membuat Berbeda Tetapi Kasihlah Yang Menyatukan

T3LUSUR
Bagikan:

Jakarta, t3lusur.com-Fenomena pengkotak-kotakan dan penjustifikasian kelompok berbeda rasanya rajutan kebangsaan terusik, menjawab tantangan jaman dengan riak-riak gerekan pembedaan yang semakin marak, maka perlu disikapi dengan bijak terutama dalam membangun komunikasi sesama anak bangsa yang berbeda itu. Dr. Ali Mocthar Ngabalin, MA, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Badan Koordinasi Mubaligh Seluruh Indonesia (BAKOMUBIN) diundang sebagai narasumber di sesi 2 dalam kuliah umum,yang diselenggarakan STT IKAT bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) Selasa 28/01/20, di kampus STT IKAT Rempoa Permai 2, Bintaro Jakarta Selatan.

Dr. Ali Mocthar Ngabalin yang juga staf ahli utama Kantor Staf Presiden siang itu menyampaikan bahwa masyarakat terpelajar itu diidentifikasi dalam 5 variabel penting yakni, Believe in God artinya Kita percaya pada satu titik yang mengatur kehidupan kita, yaitu kepercayaan pada Tuhan yang maha esa. Kita meyakini hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Semua sendi kehidupan manusia berpusat dan bermuara dari Padanya (Tuhan/Allah).

“Kita memang berbeda dalam keyakinan, kita berbeda dalam banyak hal, tapi mustahil kita tak bisa ketemu dalam satu hal, tidak mungkin” ucapnya. Makanya kalau berbeda takdirlah yang membuat kita berbeda, tapi kasih yang mempersatukan kita. Kalau ada yang klaim hidupnya paling bersih dan suci, maka itu adalah manusia paling hina dalam sejarah panjang manusia” tegasnya.

Ngabalin menjelaskan bahwa doktrin believe in God itu harus ada, itulah sebabnya semua orang harus percaya kuasa Tuhan hadir dalam hidup semua manusia, itu adalah konsep orang-orang yang memiliki peradaban.

“Tidak ada dikolong negeri ini yang merasa hidupnya tanpa kuasa Tuhan, karena setiap orang yang ada di republik NKRI harus percaya bahwa kuasa Tuhan hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, itulah konsep manusia yang memiliki peradaban” tegasnya.

BACA  Menyelamatkan Pengemudi Kenderaan Bermotor Terhindar Dari Kecelakaan, Ini Yang Dilakukan Personil Polres Madina

Kemudian Intelektual Knowledge bahwa kehadiran STT IKAT adalah sebagai kampus yang mempersiapkan generasi yang memiliki kemampuan intelektual knowledge.

Ngabalin dalam penjelasannya menyampaikan, bahwa ilmu lah yang merangsang keyakinan pada setiap diri manusia. Karena ilmu pengetahuanlah yang membuat kita dapat membedakan mana hak dan kewajiban, itulah tanda kelompok terpelajar.

“Hanya orang bodoh yang tidak mengerti tentang sistem nilai kebenaran dalam membangun kehidupan, kebersamaan dalam kerangka kesatuan Republik Indonesia” tegas Dr. Ngabalin.

Dr. Ngabalin juga meminta rektor STT IKATĀ  agar pertemuan-pertemuan seperti ini harus terus dilakukan.

Ngabalin juga menyampaikan bahwa dirinya sudah banyak mengundang tokoh-tokoh lintas agama untuk bicara, kita duduk bersama, ndak mungkin kita tak bisa ketemu dalam satu titik, kita pasti ketemu dalam satu titik tertentu. Karena Roh Keyakinan (Allah) yang ada padaku, ada juga pada pastor, pendeta, karena Tuhanlah yang menjadikan semua. karena itu sebuah keberkahan yang tak mubgkin siapapun bisa menolak.

The founding father kita, sudah sangat tepat mengambil keputusan yang baik untuk negeri ini. tidak mungkin kita lebih pintar dari mereka, Ketuhanan yang maha esa adalah salah produk dari hasil kesepakatan founding father kita, yang awalnya Indonesia ingin dejadikan sebagai negara yang berdasar pada syariat Islam, kemudian diganti jadi ketuhanan yang maha esa, kenapa? demi masa depan peradaban bangsa ini.

“Islam saya ini adalah islam indonesia, maka culture dalam sujud dan peribadatan saya, dalam berfikir saya, dan sikap saya dalam membangun silaturahmi adalah dalam culture Indonesia.

CULTURE, Ngabalin menjelaskan perbedaan-perbedaan keyakinan itu kita pertemukan dalam culture kita yang sama.

“pantang bagi kami, jangankan berbicara dan berteriak, karena dalam culture kami; berjalan didepan guru pun kami tak sanggup” ucap Ngabalin.

BACA  PSI KOTA BOGOR MENGECAM PENANGKAPAN AKTIVIS SUDARTO KARENA MENYUARAKAN KETIDAKADILAN DI SUMBAR

“Konsep moral culture yang dibangun oleh STT IKAT mendirikan kampus, karena menyadari kalau Indonesia ini membutuhkan generasi-generasi pelanjut teladan agama, pengembang cinta dan kasih pada orang banyak, dengan nilai-nilai, budaya, iman dan ilmu yang benar” ucap Ngabalin.

THE YOUNG GENERATION Ngabalin meyakini bahwa kehadiranĀ  injil-injil datang dari tangan-tangan yang telah Tuhan berkati.

“Tuhan menjamin setiap kehidupan manusia. Karena Tuhanlah yang menciptakannya, Kenapa manusia berani menghakimi sesama manusia? bukankah segala ciptaan harus tunduk pada Tuhan? Semua manusia harus juga menghormati semua ciptaannya. Karena Tuhan yang ciptakan kita berbeda, kalau Tuhan mau bisa ciptakan 1 agama. Tapi Tuhan punya kehendak kita berbeda.

“Generasi muda harus melihat perkembangan teknologi
Four Point Zero (4.0) adalah alam teknologi yang semakin maju dan terbuka. Pikiran kita juga harus semakin terbuka tak perlu takut tak karu-karuan, semua sudah terbuka disemua sektor, kenapa masih ada yang takut tak karu-karuan menghadapi perbedan-bedaan yang ada” ucap ngabalin.

Dr. Ali Mochtar Ngabalin menjelaskan bahwa urusan agama adalah urusan pribadi dengan Tuhan, biarkan semua manusia meyakini setiap nilai-nilai kebenaran dengan kepercayaan masing-masing.

“Rakyat Indonesia Itu adalah Kristen, Rakyat Indonesia itu adalah Islam, Rakyat Indonesia itu adalah Hindu, Budha, Khatolik dan Khonghucu” Tegas Ngabalin dengan penuh semangat.

“Negeri ini adalah negeri patahan surga, yang sengaja Tuhan jatuhkan di benua Asia. Karena setiap agama mengajarkan tentang cinta dan kasih” ucap Ngabalin.

Ngabalin juga menyampaikan bahwa dirinya sudah berpidato dimana-mana, bahkan di Gereja Khatolik di Belanda, semua karena nilai-nilai kebenaran, cinta, dan kasih. kerana tak mungkin saya bisa sampai kesana berpidato tanpa semua nilai-nilau itu.

Diakhir pengantar pemaparan, Ngabalin menyampaikan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru.

BACA  ProjenKind Bangun Rumah Anak

Sebelumnya pada sesi pertama dengan narasumber Syaykh Abdusalam Panji Gumilang pimpinan pondok pesantren terbesar di Indonesia Indramayu memberikan paparan sejarah bagaimana Indonesia itu berdiri serta perjalanan agama-agama masuk di Indonesia, terutama Islam masuk ke Indonesia di bawa oleh panglima Cheng Ho dan beberapa wali keturunan dari bangsa Tionghoa.

Mengenai persoalan adanya orang-orang yang masih melarang agama lain berbeda Syaykh dengan tegas orang-orang itu belum merdeka, karena menurutnya orang beragama itu harus membawa manfaat bagi sesamanya.

Rektor STT IKAT, Dr. Jimmy Lumintang dalam sambutannya menyampaikan bahwa STT IKAT dalam memilih tema kuliah umum berdasar pada persoalan keberagaman yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Kuliah umum yang digelar di Ruang Serbaguna Kampus STT IKAT, Jl, Rempoa Permai, Bintaro, Jakarta Selatan (28/01/20) dimulai dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore dihadiri ratusan mahasiswa STT IKAT, Mahasiswa Pascasarjana Ikat, anggota Pewarna Indonesia dan tokoh-tokoh Masyarakat Kristen dan Masyarakat Umum.Ym

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *